Chapter 9 – October
(It’s not me,Is you)
Hari ini aku melihat
hujan turun dari langit tanpa kilatan petir , ini pertama kalinya hujan turun
di bulan oktober. 6 tahun sudah berlalu aku tenggelam dalam
duniaku sendiri, aku lupa bagaimana rasanya menikmati hujan dalam keheningan.
Sekarang hujan menghampiriku dan menyadarkanku untuk mengingatnya kembali, mengumpulkan
semua memori yang telah lama terkubur di ingatan. “apa kabarnya kamu sekarang.. ?”. aku menatap rintik-rintik hujan yang terjatuh
dari langit ke tanah, tak biasanya hujan turun berlangsung lama.
Sambil menunggu aku
mengambil ponselku dari saku jaket, mencari sebuah nama yang sudah lama
kulupakan, raut kecewa terlihat jelas di wajahku. “aku benar-benar melupakan keberadaanmu selama ini, huff..”. sambil
menghela nafas, kumasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket. Pandanganku kini terasa kosong dan hampa.
In
another place..
Siang ini langit tampak
tak bersahabat, matahari sudah bersembunyi di balik awan. Ketika aku berjalan
ke arah meja kerjaku, terdengar rintik-rintik hujan mulai berdatangan dari
langit dan menumpahkannya sedikit demi sedikit membentuk irama lagu mengenai
atap ruangan kerjaku. Lama-lama irama rintik hujan itu terdengar menjadi lebih
jelas dan keras, langkah kakiku terhenti setelah mendengarnya. Tanpa kusadari tubuhku terasa lemas, tanganku
otomatis memegang meja untuk menahan tubuhku agar tak terjatuh.
Salah satu rekan
kerjaku, dewi masuk ke dalam ruanganku dan sempat melihat sekilas apa yang
terjadi padaku, dia menanyakan kondisiku. “marsha,
kalau kamu sakit lebih baik istirahat saja. Pasien hari ini yang check up tidak
terlalu banyak, jadi kamu tidak perlu kawatir”. Aku hanya tersenyum dan mengatakan kalau aku
baik-baik saja sambil berusaha bercanda, “aku
baik-baik saja, hanya tadi kakiku menabrak ujung meja hehe..”. dia kemudian
mengangguk mengerti, lalu meninggalkanku sendirian.
Setelah itu, beberapa
menit kemudian ada perawat yang membawa masuk pasien. Aku melakukan pemeriksaan
biasa, ketika akan menulis beberapa resep obat untuk pasien tiba-tiba air
mataku jatuh mengenai buku resep obat yang sedang kutulis. Perawat yang
bertugas menjadi asistenku melihat kejadian itu dan menyarankan untuk mengganti
surat resep obat yang baru, buru-buru aku langsung membuat yang baru secepatnya
dan memberikannya pada pasien lalu perawat mengantarkan pasien itu keluar
ruangan.
Anehnya air mata ini
terus saja keluar berjatuhan dari kedua mataku, “kenapa
tiba-tiba aku nangis ga jelas gini sih.. ?”. aku
berusaha mengusap air mataku dengan kedua tanganku, semakin lama bukan jadi
berhenti tapi tangisanku makin
menjadi-jadi. Dadaku terasa sakit, seperti sulit untuk bernafas. Perawat yang
bertugas bersamaku terlihat kaget setelah masuk kembali ke ruangan bersama
pasien yang baru, dengan inisiatifnya dia mengajak pasien keluar ruangan lalu
kembali datang bersama dewi.
Aku ingin menjelaskan
kepada dewi tentang apa yang terjadi, tapi bukan kata-kata yang keluar dari mulutku
melainkan tangisan yang terus keluar. melihat kondisiku yang tiba-tiba seperti
ini, dewi meminta tolong kepada rekan kerja yang lain untuk menggantikan
posisiku hari ini karena tak mungkin aku bisa melanjutkan bekerja. Dia kemudian
memelukku agar aku merasa tenang, lalu menyuruhku untuk duduk. Agak lama untuk
membuat air mataku berhenti, rasanya seperti ada sesuatu yang ingin terus
keluar dari dalam hati namun entah apa itu aku pun tak mengerti perasaan ini. “aku ga tau kenapa tiba-tiba air mata ini keluar,
wi..rasanya itu seperti lagi nahan emosi, tapi ga bisa di keluarin”. Aku
berusaha menjelaskan apa yang terjadi setelah isak tangisku agak mereda, “perlu aku telepon sena untuk jemput kamu
pulang.. ?”. dewi menyarankan untuk menghubungi pacarku, agar aku bisa istirahat dirumah. Aku langsung
menggelengkan kepala, menghubungi sena hanya akan menambah beban pikirannya
saat dia lagi bekerja.
Setelah aku bisa
menenangkan diri dan bisa mengontrol tangisanku sampai reda, barulah aku
membereskan meja kerjaku dan bersiap-siap untuk pulang. Dewi yang menungguku di
luar ruangan, hanya memberitahuku untuk hati-hati saat aku naik motornya. Aku
hanya mengangguk pelan, lalu berjalan menuju parkiran motor.
Ketika diperjalanan, aku memutuskan untuk pulang ke
rumah bukan ke arah kos-kosan. Ada rasa
ingin segera pulang, entah itu apa. Semakin lama aku mengemudikan motorku ke
arah jalan pulang, ada perasaan yang kuat yang menuntunku. “semoga tidak terjadi apa-apa sama orang-orang yang dirumah..”.
Karena belum jam pulang,
jalan agak sedikit lengang. Aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai
kerumah, di tengah jalan gerimis sudah turun namun aku tidak berusaha untuk
berhenti berteduh karena hujan juga tidak begitu lebat.
Sesampainya dirumah,
masih terlihat rintik-rintik kecil. Saat aku masuk ke dalam rumah, adikku yang
baru saja pulang dari tempat les langsung menyambutku dengan keheranan karena
tak biasanya aku pulang di hari biasa ditambah masih jam kerja. “mba..ada apa ? tumben jam segini bisa
pulang, ada perlu sama Ibu ?”. aku tak langsung menjawab pertanyaan adikku, aku langsung masuk ke dalam kamarku
untuk rebahan. Adikku mengikutiku dari belakang dan masuk ke dalam kamarku, “ada barang yang ketinggalan jadi mba
pulang..”. aku tak bisa memberitahu
alasan yang sebenarnya, karena aku tak ingin menjawabnya yang aku sendiri belum
tahu kenapa.
“oiya
mba, waktu aku pakai ponsel yang mba kasih ke aku. Aku nemuin ada pesan yang
disimpan di archive message, aku pikir itu punya mba jadi masih aku simpan”.
Pertanyaan adikku langsung membuatku tersadar, aku langsung bangun lalu
menanyakan ponselnya. “boleh mba pinjam
ponselmu, mba mau lihat pesan apa sih..”. Adikku lalu memberikan ponselnya padaku, aku
lantas memeriksanya. Ketika kulihat
semua pesan di archive message, aku
mendadak lemas saat aku mengetahui bahwa semua pesan yang kusimpan ini adalah
dari “hujan”. Ingatanku langsung terbuka ke masa-masa waktu aku masih di bangku
sekolah dulu. Aku sengaja menyimpan di folder
lain agar aku bisa konsentrasi penuh untuk ujian, karena aku takut saat hujan
turun pesan itu akan hadir di ponselku dan membuatku lupa akan ujian sejenak. “ternyata pesan ini masih ada, dan aku baru
ingat lagi setelah sekian lamanya..”.
aku menghela nafas panjang, tak
kusangka firasat dan rentetan kejadian yang tak terduga akhir-akhir ini adalah
karena alasan ini. “apa kabarnya kamu
sekarang.. ?”. pandangan mataku tertuju pada jendela di sudut kanan
kamarku, nampak hujan terlihat lelah dan ingin berhenti sejenak. Tinggalah aku yang masih terpaku di keheningan sore
dengan ponsel yang berisi pesan dari “hujan” tergeletak di sampingku, dan aku
baru menyadari ponsel yang kusimpan di
dalam tas sedari tadi bergetar. Aku
mengambilnya dan kulihat ternyata dari sena,
Marsha
:”iya sen, kenapa..?”.
Sena
:”dewi tadi kirim pesan, katanya kamu ga enak badan.. perlu aku ke tempat kamu
sekarang juga ?”.
Marsha
:”aku lagi di rumah sekarang, tiba-tiba kangen sama yang dirumah.. ga usah,
sen.. aku udah mendingan ko..”.
Sena
:”ya sudah, kamu jangan lupa istirahat yang cukup.. kalau ada apa-apa kabarin
aku ya, sayang..”.
Marsha
:”iyah..”.
Percakapan singkat
dengan sena akhirnya selesai juga, ada perasaan bersalah saat aku tak
memberitahunya tentang hal yang sebenarnya kepadanya. “maafin aku, sen.. aku butuh waktu untuk mencerna ini semuanya setelah
apa yang terjadi”. Aku menghempaskan tubuhku di kasur, kini semuanya terasa
begitu complicated . perasaanku mulai
terbagi dua, antara perasaan 6 tahun yang lalu dengan perasaan yang sekarang
kujalani. Ternyata memori masa lalu mampu mengalahkan pertahanan di hatiku, aku
bimbang..
Comments
Post a Comment