Chapter 6 – Your Scent
(That Man)
Hari
ini adalah hari yang menyenangkan, tiba-tiba para guru rapat dan kegiatan
belajar di berhentikan jadi aku bisa pulang lebih awal dari biasanya. “coba setiap hari guru rapat, tak perlu ada
tugas dan tak perlu ada pemantapan..”. membayangkannya saja sudah membuat
hatiku senang, apalagi sampai benar-benar terjadi.
Tiba
di parkiran depan, salah satu sahabat dekatku sudah menungguku disana. Hari ini
dia sudah janji padaku untuk menemaniku ke toko buku, 2 minggu lagi aku akan
mengikuti tes penerimaan calon mahasiswa kedokteran di salah satu universitas
swasta terkenal di kotaku tinggal. Jadi aku harus benar-benar mempersiapkan
diri dengan baik, aku tak ingin melewatkan kesempatan yang belum tentu akan
datang lagi.
Aku
dan sahabatku pun meluncur ke toko buku dengan menggunakan mobilku, kebetulan
jarak toko buku dan sekolahku sangat dekat jadi hanya membutuhkan waktu 15
menit kami sudah sampai di toko buku langgananku. Sahabatku anti masuk ke dalam
toko buku, karena dia selalu bilang orang-orang yang suka diam di dalam toko
buku adalah orang-orang yang tak ada kerjaan betah berlama-lama menghabiskan
banyak waktu terbuang hanya untuk membaca,
mencari, dan membeli buku. “terus kenapa
kamu masih betah jadi temanku ? aku kan termasuk orang-orang yang kamu bilang
tadi ?”. aku selalu bahas hal itu setiap dia mengatakan kenapa aku betah di
toko buku, pertanyaanku diakhiri dengan lemparan jaket ke arahku dan aku pun keluar
mobil sambil tertawa.
Aku segera masuk ke dalam toko buku, ternyata banyak
teman-teman yang juga sengaja mampir. Aku berjalan ke tempat rak-rak yang dekat
dengan buku-buku teknik, “wah..ada
semuanya disini, beruntungnya aku..”. satu persatu aku mengambil buku-buku
yang kuperlukan untuk tes kedokteran, aku ambil lima buku sekaligus dan tiga
diantaranya cukup tebal jadi agak susah aku membawanya ke meja kasir.
Aku
mengira tak ada siapa-siapa di depanku karena pandanganku terhalang oleh
buku-buku yang ada ditanganku, tanganku menyenggol bahu seseorang yang berada
di depanku dan bukuku jatuh berceceran ke lantai.
“aduh..aduh..pakai nabrak
segala sih, sha..”. aku pura-pura tak melihat
seseorang yang kutabrak barusan, mataku terus saja melihat ke arah buku-buku
yang jatuh. Ada perasaan malu, karena semua orang yang berada di ruangan sedang
melihatku. “oh..maaf yah, jadi terjatuh
bukunya..”. aku mendengar suara pria yang kutabrak, namun aku pura-pura tak
mendengar. Buku terakhir ada di tangannya, mau tak mau aku harus melihatnya
untuk mengambilnya. “aah…”. aku
terkejut saat melihat wajahnya, pria itu pun meminta maaf karena membuatku
terkejut dengan kehadirannya sambil tersenyum ramah. Dia memberikan buku yang
terakhir jatuh kepadaku, dan aku yang masih dalam kondisi terkejut segera sadar
dan mengucapkan terima kasih kepadanya lalu pergi ke meja kasir.
Di meja kasir, aku melirik lagi ke arah pria itu.
Namun pria itu tengah sibuk mencari sesuatu di rak-rak buku teknik, “wajahnya..pernah kulihat dimana ya..?”.
aku mencoba untuk menerka-nerka sambil membayar semua buku, setelah itu aku
melangkahkan kaki keluar sambil terus mengingat-ingat ke arah mobil. Kejadiannya
begitu cepat, aku bahkan tak bisa berpikir langsung tentang apa yang terjadi
ketika tanganku ditarik dari belakang dan aku yang agak melamun sangat terkejut
lalu menoleh ke belakang. Aku melihat pria yang kutabrak di dalam toko buku
itulah yang memegang tanganku dan menyuruhku untuk berhenti sebentar, hanya
beberapa detik namun berhasil membuka ingatanku beberapa bulan yang lalu saat
dia bicara. Setelah itu, dia pergi begitu saja meninggalkanku. Sahabatku yang
melihat dari dalam mobil langsung keluar dan menanyakanku apa yang terjadi,
tanganku yang masih memegang bungkusan plastik yang berisi buku kujatuhkan ke
tanah begitu saja.
Mendadak
tubuhku terasa lemas sekali dan hampir mau jatuh, untungnya sahabatku yang
turun dari mobil langsung memegangku. “marsha..kamu kenapa ? siapa pria
tadi ?”. aku tak menjawab pertanyaan sahabatku, aku masih
memikirkan kata-kata pria itu. “kalau
kita mesti menyambut matahari yang lebih sering menampakkan diri daripada
hujan, itu artinya kita akan melupakan hujan dan keindahan senja dibalik
turunnya hujan..”. lututku terasa lemas begitu kusadari kata-kata itu
adalah jawaban dari pesan yang pernah kukirim beberapa bulan yang lalu untuk
“hujan”. Aku melihat sahabatku terus memanggil namaku dan beberapa orang di
sekitarku terus melihatku, lama-lama suara teriakan itu tak kudengar lagi,
pandangan mataku terasa kabur dan semua terasa gelap.
Comments
Post a Comment