Skip to main content

Part-7

Chapter 7 – Your Scent
(Is You)


Seminggu setelah kejadian di toko buku, aku berkunjung kembali, karena pesanan buku yang aku pesan sudah datang. Kebetulan salah satu karyawan yang bekerja di toko buku itu adalah teman satu kampus, dan dia membantuku untuk mencari beberapa bahan-bahan yang sulit kutemukan di toko buku manapun.

Begitu sampai di toko buku, aku parkir motor terlebih dahulu. Kulihat petugas parkir yang sudah kukenal berjalan menghampiriku, “gimana kabarnya, mas ian ? sudah lama tidak kesini, biasanya dua hari sekali kesini..ini sudah seminggu baru kesini lagi, kuliahnya lagi sibuk mas ian ?”. aku hanya tersenyum ramah, tak biasanya hari ini beliau begitu memperhatikanku. “kabar saya baik, pak..hanya sekarang ini, saya sedang sibuk mengurus skripsi bulan ini harus selesai”. Sambil menepuk bahuku, beliau mengajakku untuk duduk-duduk sebentar. 

“mas ian, tak buru-buru kan ? bapak ingin mengobrol sebentar saja, ada yang ingin bapak tanyakan..”. rasanya tak enak hati bila kubilang aku sedang buru-buru, karena aku sudah ada janji dengan teman-teman sebentar lagi. “iyah, pak..saya tak buru-buru, ada apa yah pak, seperti ada yang penting ?”. aku mengikuti beliau masuk ke dalam pos untuk duduk, “maaf ya, mas ian..bapak cuma penasaran saja tentang kejadian minggu lalu, perempuan yang waktu itu siapanya mas ian ?”. tanpa di duga ternyata beliau menanyakan kejadian minggu lalu, “bukan siapa-siapa, pak..saya juga tak mengenalnya, hanya waktu itu saya juga bingung kenapa saya bisa refleks”. Beliau hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasanku, aku dibuat bingung. “memangnya ada apa, pak ?”. rasa penasaranku mendadak tinggi sekali, ingin tahu apa yang terjadi pada perempuan itu setelah aku pergi. “setelah mas ian pergi, perempuan itu tiba-tiba pingsan tak tau kenapa..bapak sampai kaget waktu itu juga, dibawa ke dalam sama orang-orang sini juga temannya. Begitu sadar, tiba-tiba langsung nangis, kasihan saya lihat kondisinya”.

Aku hanya bisa terdiam dan mulai menyadari sesuatu setelah mendengar penjelasan dari beliau, ada rasa sakit di dada seperti sulit untuk bernafas. “gak mungkin dia.. gak mungkin…”. Mendadak tubuhku lemas tak bisa bergerak sama sekali, hampir aku terjatuh saat berdiri. “loh.. mas ian kenapa ? mas ian, gak kenapa-kenapa kan ?”.  beliau berulang kali menanyakan tentang kondisiku, tapi aku tak memperhatikan beliau yang mulai cemas melihatku. Pandanganku kosong, beliau menuntunku untuk duduk kembali. Perlahan ingatanku terbuka satu-persatu tentang nomor kontak yang kunamai dengan “hujan” dan sederet pesan yang selalu datang di saat turunnya hujan, begitu pula wajahnya yang selalu terlihat familiar olehku, lalu sederet kejadian-kejadian yang secara tak sengaja mempertemukan aku dan dia kemarin-kemarin hingga terakhir di toko buku. Barulah aku mengerti kenapa tiba-tiba aku refleks memegang tangannya minggu kemarin dan membalas pesannya yang dia kirim, semakin aku menyadari semakin aku rasakan sakit yang begitu hebat di dada. “ternyata memang dia…”.  Aku berusaha untuk berdiri dan keluar meninggalkan pos menuju parkiran motor, aku tak ingat lagi tujuanku ke toko buku untuk mengambil pesanan buku. Yang ada di pikiranku saat ini adalah pulang kerumah dan mencoba menenangkan hati, beliau yang melihatku langsung pergi tak berani untuk bertanya lagi dan membiarkanku.

Matahari kini bersembunyi di balik awan, tak berani untuk menampakkan diri beberapa saat. Hanya terasa titik-titik air hujan turun tapi setelah itu menghilang kembali, sama seperti hatiku yang terasa begitu sesak dan aku tak bisa mengeluarkannya.

Di tengah jalan, aku berusaha menahan rasa sesak di dada tapi semakin aku menahannya semakin aku tak bisa bernafas. Aku memutuskan untuk berhenti sebentar ke pinggir jalan, aku membuka helm dan jaket tipisku agar aku bisa bernafas. Tanganku bergetar, perasaanku mendadak kacau, entah apa yang aku pikirkan saat ini. Refleks aku mengambil ponselku dari saku jaket, aku mengetik beberapa kata dengan kedua tanganku yang masih gemetar ke salah satu kontak telepon. Setelah itu pesan pun terkirim, dan tergantikan oleh rintik-rintik hujan yang menyentuh wajahku dengan lembut. aku terpaku diam menatap rintik-rintik hujan yang kini membasahi tubuhku yang hanya terbalut oleh jaket tipis, lamunanku tersadar setelah aku melihat ada pesan yang baru saja masuk ke ponselku. “aku tak ingin berdoa setiap hari berharap hujan turun, aku cuma berharap tanpa harus menunggu rintik-rintik hujan, aku masih bisa mengenal hujan setiap saat..” . pesan yang baru saja aku baca itu datang dari “hujan”, entah kenapa aku merasakan sebuah perasaan yang begitu sangat lega seperti rasa sesak di hatiku beberapa saat yang lalu aku masih rasakan kini sudah hilang begitu saja. “thank you, God..”. kini aku bisa melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah, tak perduli kini pakaianku sudah basah.

In the classroom..

Seminggu setelah kejadian di toko buku, aku berusaha untuk tak mencoba mengingatnya. Teman dekatku pun tak berani untuk menanyakan, dia menjaga perasaanku walaupun aku tau dia sangat penasaran tentang pria yang kutemui di dekat parkiran toko buku.

Ponselku bergetar, terlihat ada pesan yang masuk. “hmm...”. ada rasa kecewa saat aku melihat dari siapa pesan yang baru saja masuk, kulirik ke arah jendela kelas cuaca terlihat cerah tak ada tanda-tanda akan turun hujan. “eh.. kenapa jadi mikirin hujan ya ?”. aku tersadar dari lamunanku seketika itu juga, sambil menghela nafas aku membuka kembali buku yang dari tadi tak aku sentuh semenjak guru keluar kelas.

“yah.. hujan, semoga ga lama deh hujannya..”. celetukan teman sebangku membuatku spontan melirik ke arah jendela, ternyata memang hujan. Saat aku bersorak riang dalam hati karena hujan turun, tiba-tiba hujan langsung berhenti. Otomatis pandanganku mengarah pada ponselku yang tergeletak di meja, tak ada pesan yang masuk lagi. “kenapa sebentar sekali turun hujannya sih..”. aku menggerutu dalam hati, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas karena guru sudah masuk lagi ke dalam kelas.

Setelah pelajaran selesai, sambil iseng aku mengambil ponsel lalu kulihat ada pesan masuk 15 menit yang lalu. Ketika kubuka, ternyata dari “hujan”. “aku tak pernah klaim hujan adalah milikku, sama seperti kamu yang tak lagi mengirim pesan saat rintik-rintik hujan membasahi dunia, karena kamu sudah mengetahui bagaimana proses turunnya hujan”. Setelah selesai membaca pesannya, rintik-rintik hujan kembali turun. Aku mulai memahami isi pesannya, lalu membalasnya dan mengirimkannya.

Ternyata aku dan hujan mempunyai perasaan yang sama, yaitu sama-sama takut kehilangan momen dimana ketika turun hujan tak akan ada cerita rahasia tentang kita. “jangan kawatir, aku tak akan melupakan momen ini walaupun aku sudah tau siapa “hujan” sekarang. terima kasih..”.  aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas, setelah itu guru kembali masuk untuk memulai pelajaran selanjutnya. 


Comments

Popular posts from this blog

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 5 Final)

Part 5 -payung- Setelah insiden ketiduran di angkot, aku mesti muter arah lagi untuk sampai kos-kosan. Selama di angkot, aku memutuskan untuk ga tergoda dengan lambaian angin dari kaca jendela walaupun akhirnya aku terlena kembali selama beberapa detik sampai nyaris terlewat dikit dari tempat yang seharusnya aku turun. “ Mantep amat pulang dari kampus ke kos-kosan sampai 3 jam yang biasanya cuma 1 jam-an sama macet, gara-gara rumus epek nih..”. aku berjalan ke arah kos-kosan sambil ngeliatin jam di tangan. Tiba di depan kos-kosan, Ibu kos udah nangkring jah depan kamarku. Sambil mikir-mikir ada apa gerangan, padahal uang bulanan kosan udah dibayar tepat waktu, ga pernah ngutang juga, apalagi bawa cewek ke kamar juga ga pernah. “Apa gara-gara aku suka ngabisin air lebih banyak ya kalau mandi, atau ketauan aku pernah ambil jatah makanan anak kosan sebelah gitu ? lagian ga pernah diambil juga, sayang kalau ga dimakan kan buang rejeki..”. aku masih menerka-ner...

Understand - Matahari yang tak pernah kembali bersinar

19 Juli 2017, 11.20 am Taman Kota Tua samping Spiegel Bar & Resto, Semarang “Kenapa sih diantara tahun-tahun yang sudah terlewat, kamu mesti memilih tahun ini untuk kesini lagi ? 8 tahun bukan waktu yang singkat, Ga..”.  Aku memulai percakapan setelah hampir kurang lebih 20 menit kita berdiam diri di taman kota tua. “Entahlah.. Aku hanya rindu tempat ini, Van..”.  Pandangannya tetap lurus ke sepanjang jalan kota tua tanpa melihatku. “Rindu Lea juga ?”.  Aku berkata pelan sambil melihat ekspresinya. Ekspresinya ga berubah, terlihat datar dan dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengambil IPodnya lalu memasang Playlistnya, karena hari ini termasuk hari sekolah jadi hanya ada beberapa yang duduk di taman ini termasuk kita.  Send your dreams were nobody hides Give your tears to the tides No time No time “Apa kabarnya ya dia sekarang, Ga ? Terakhir kudengar dari Seila, dia masih kuliah semester akhir”.  Aku kembali membuk...