Chapter 4 - Stranger
(Realize)
“kita putus!”.
Kata-kata
itu masih terngiang di telingaku ketika kubuka mataku di minggu pagi, aku
bertemu dengan seseorang yang pernah mengisi hari-hariku selama hampir lebih 5
tahun setelah tak sengaja melihatnya dengan seorang pria pada sabtu malam
ketika di jalan pulang setelah hujan reda dari café. Sakit hati itu tetap ada,
tapi yang pasti aku mengerti alasannya tak berusaha menghubungiku selama
beberapa bulan terakhir ini adalah karena kehadiran orang ketiga diantara aku
dan dia.
Tombol
delete pun sudah kutekan di layar ponsel, kini tak ada satupun memory bahkan
history tentangnya lagi. Semua sudah berakhir, begitu saja tanpa ada kata-kata
manis yang keluar. “it’s over now..”.
aku melihat ke arah langit dari balik jendela, pagi ini langit berusaha
menghiburku dengan mengeluarkan matahari dari balik awan dan membuatku tersadar
bahwa apa yang kualami semalam adalah salah satu dari perjalanan hidupku. Aku
seakan terhipnotis oleh kilau sinar matahari, bahwa dibalik semuanya adalah
yang terbaik untukku. Aku tak akan pernah tahu kalau aku tak bertemu dengannya
semalam, dan aku tak akan bertanya-tanya lagi mengapa dia tak pernah berusaha
menghubungiku dan mencariku lagi. “thank
you..”. aku tersenyum sambil menutup kedua mataku, aku mematikan ponsel
lalu kemudian terlelap kembali ke dunia mimpi.
In another room..
Alarm
ponsel berdering, dengan rasa malas aku bangun dan mengambil ponsel di meja
lalu kumatikan. “oh..sudah jam 7 lagi..”.
sambil menggeliat di tempat tidur, aku mencoba untuk bangun dengan kondisi
setengah sadar membuka tirai jendela. Langit pagi ini cerah sekali, matahari
terlihat dengan jelas dan awan pun membiarkan matahari untuk berjalan sendiri
tak perlu ditemani karena tak ada kilatan petir yang akan mengganggunya.
Mataku
melirik ponsel yang tergeletak di tempat tidur, kuambil dan kubaca lagi pesan
yang masuk kemarin malam dari “hujan”. Pesan yang kukirim sudah terkirim, tapi
tak ada balasan lagi. “jadi penasaran..”.
tanganku ingin sekali mengetik kata-kata untuk dikirimkan kembali kepada
“hujan”, tapi hari ini cuaca cerah. “kenapa
aku jadi terpaku sama cuaca untuk mengirim pesan ?”. kembali aku tersadar oleh kebiasaan
yang aku lakukan sejak kemarin-kemarin, dengan bodohnya aku rela menunggu hari
demi hari dan berharap akan turunnya hujan supaya aku bisa mengirimkan sebuah
pesan untuknya. “kenapa aku jadi bego
gini sih ?”. aku menertawakan diri sendiri atas kekonyolan yang kulakukan.
Aku
mencoba untuk mengirim pesan untuk “hujan”, setelah berulang kali mengetik dan
menghapus kata-kata akhirnya aku menemukan kata-kata yang bagus untuk memulai
sebuah percakapan. “matahari terbit di
pagi hari dan tenggelam di sore hari, tapi hujan hanya turun saat kilatan petir
datang dan membuat matahari bersembunyi di balik awan..kenapa kita mesti
berkirim pesan saat turunnya hujan saja, kalau saat matahari keluar dari balik
awan kita tak bisa menyambutnya juga ?”. aku menekan tombol sent, dan menunggu proses
pengiriman pesan. Aku merebahkan kembali tubuhku di tempat tidur sambil
menunggu proses pengiriman pesan dan kulihat kembali ke layar ponsel, “huft..”. aku melempar ponselku dan
menutup wajahku dengan bantal, pesan tak terkirim!!
Comments
Post a Comment