Skip to main content

Part-8

Chapter 8 – Amnesia
(Let It Go)


Hari demi hari menyita semua waktu, aku di sibukkan dengan persiapan untuk sidang skripsi minggu depan. Banyak sekali yang harus aku siapkan, bahkan tak ada waktu untuk bersantai sebentar. Semua perhatianku tertuju untuk memastikan bahan-bahan yang akan aku persentasikan ke dosen penguji tak ada satupun yang kurang, dukungan-dukungan dari teman-teman terdekat bahkan keluarga pun sudah mengalir untuk membuatku semakin semangat.

Hingga di hari yang ditunggu itu tiba, aku sengaja datang agak awal biar bisa mempersiapkan tanpa harus terburu-buru. “semoga hari ini lancar tanpa kendala, aamiin..”. perasaan gugup sudah hadir ketika dosen penguji mulai masuk ke dalam ruangan satu persatu, aku berusaha meyakinkan diri untuk selalu optimis bisa.

30 menit setelahnya, kulirik dosen penguji merasa cukup puas dengan apa yang aku lakukan. Setidaknya aku sudah memperlihatkan semua yang terbaik, walaupun ada beberapa program yang sedikit tidak bisa memproses ketika aku menekan tombol enter dan aku berusaha untuk memperbaiki sebentar lalu ketika kujalankan kembali ternyata berhasil di proses. 

Sekarang hanya tinggal menunggu waktu untuk mendapatkan hasilnya, dosen penguji pun keluar dari ruangan sambil membawa berkas-berkas data tentang skripsiku. Teman-teman yang menungguku dari luar ruangan langsung menghampiriku dan terus memberikan semangat kalau persentasi aku tadi terlihat lancar sekali, aku yang masih terlihat gugup berusaha memberikan senyuman kepada mereka yang sama-sama hari ini berjuang sampai titik-titik akhir untuk mendapatkan satu gelar yang nantinya akan merubah nasib kita di luar sana.

Pandangan mataku langsung tertuju melihat jendela, aku berjalan ke arahnya. Langit hari ini cerah, secerah perasaanku. Kini hujan tak pernah berusaha untuk memperlihatkan titik-titik airnya seperti biasanya untuk menghiburku, hujan membiarkanku untuk berjalan sendirian kali ini agar aku bisa mengenal dunia tanpa harus bertumpu dengan kekalahan hati.
Bahuku di sentuh oleh temanku, “semoga hari ini tak hujan, supaya kita bisa merayakan keberhasilan hari ini yah..”. aku yang mendengarnya hanya bisa mengangguk dan tersenyum sambil terus melihat ke luar jendela, aku memperhatikan awan-awan yang berjalan pelan sangat berhati-hati agar tak mengganggu matahari.

Aku mengambil ponselku dari saku celana, melihat kotak pesan masuk. Aku melihat semua pesan masuk satu persatu sampai terakhir aku melihat pesan masuk dari “hujan” yang tak pernah kusentuh bahkan aku selalu melewatkan ketika akan menghapus semua pesan yang masuk ke dalam ponselku. Kedua tanganku masih juga tak bergerak, sampai akhirnya aku meyakinkan diri untuk menekan tombol delete dan pesan itu terhapus di kotak masuk pesanku untuk pertama kalinya yang tak membutuhkan waktu lebih dari 1 detik. “see you next time, hujan.. and welcome sunshine, be my new friend now..”. aku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana, lalu berbalik jalan ke arah teman-temanku yang memanggilku untuk makan siang bersama di kantin.

In the another place..

Musim ujian akhir sudah dimulai, waktu pun kuhabiskan untuk belajar, belajar, dan belajar. Tak ada canda tawa ataupun hiburan di akhir minggu, yang ada hanya aku dan buku-buku pelajaran. Hasil tes yang aku ikuti ternyata lulus, begitu selesai sekolah nanti aku langsung masuk ke salah satu fakultas kedokteran di universitas swasta yang terkenal di Bandung. Karena itu aku berusaha untuk mendapatkan nilai-nilai terbaik sebagai salah satu syarat ketika daftar ulang nanti, kalau aku bisa mendapatkan nilai yang bagus tentu saja akan mempermudah jalanku untuk bisa kuliah disana.

Besok pagi ujian akhir hari terakhir, kondisi kamarku penuh dengan buku-buku pelajaran dan latihan soal-soal dimana-mana supaya berkesan aku belajar sangat keras padahal ketika mengerjakan latihan soal-soal yang sulit aku membuka buku-buku pelajaran untuk mendapatkan jawabannya dan akhirnya buku-buku berserakan dimana-mana hehe..

Teman-teman terdekatku pun saling mengirim pesan untuk kelancaran ujian besok pagi, sepintas aku melihat kotak pesan masuk dan melihat pesan-pesan dari “hujan”. Tanganku hendak menekan tombol reply message, namun otakku buru-buru merespon untuk tak melakukannya. “ga boleh, sha.. besok kamu ujian, jangan sampai satu sms merusak konsentrasiku selama ini”. Aku berusaha meyakinkan diri untuk tetap focus ujian akhir, kutekan tombol setting lalu kupilih archive message dan kutekan enter. Kini semua pesan dari “hujan” kupindahkan ke tempat lain agar aku bisa melupakan sejenak tentangnya sampai ujian akhir berakhir.

Tak terasa sudah pukul 10 malam lagi, pantas mataku sudah ingin istirahat. Kututup buku pelajaran, lalu kutarik selimut hingga tak butuh waktu lama untuk tertidur lelap. 

Keesokan paginya, aku terbangun dari tidur. Aku mempersiapkan diri segala macamnya sampai benar-benar siap, lalu berangkat agak awal biar tak kena macet. Tak butuh waktu lebih dari 15 menit, aku tiba di sekolah. Ternyata sebagian besar teman-teman sekelasku sudah banyak yang hadir, mungkin karena hari ini adalah hari terakhir dan kita sama-sama berjuang sampai titik akhir.

Lonceng sekolah berbunyi menandakan ujian akan segera dimulai, suasana langsung hening seketika ketika pengawas masuk tepat setelah lonceng sekolah berhenti berbunyi. “semangat marsha, kamu pasti bisa..”. aku meyakinkan diri sendiri untuk optimis bisa mengerjakannya, berbekal hasil belajar semalam membuatku makin percaya diri bahwa ada yang akan keluar di soal-soal nanti.

Pengawas ujian mulai membagi-bagikan lembar jawaban dan soal-soal ke masing-masing meja, waktu pun terhitung setelah semua murid menerima semuanya.
Tak terasa waktu cepat berlalu, waktu yang diberikan oleh pengawas ujian sebentar lagi selesai. Aku memeriksa kembali lembar jawaban yang sudah penuh dengan jawaban yang aku isi, setelah merasa yakin bahwa tak ada kesalahan aku memberikan lembar jawaban dan soal kepada pengawas ujian lalu aku keluar ruangan.

Selesai sudah ujian akhir semester, hanya tinggal menunggu waktu kapan pengumuman hasil kelulusan akan dibagikan. “happy freedom student, yeaaah..”. kulangkahkan kakiku ke arah kantin, teman-temanku menyusul mengejarku. “pulangnya kita ke café biasa yuk! Sudah lama kita ga ritual kesana, gimana ?”. ajakan salah satu temanku langsung kuterima dengan semangat, dan jadilah kita pergi ke café setelah ngobrol sebentar di kantin. 

Setiba di café, suasana café tak begitu ramai karena masih jam kerja juga jam sekolah hanya beberapa pengunjung yang terlihat. Seperti biasa aku dan teman-teman memilih tempat duduk yang di pojokan, jadi kami selalu bisa melihat pengunjung yang baru masuk dan keluar. pandangan mataku tertuju kepada salah satu meja yang berada di pojokan depan dekat jendela, terlihat beberapa orang memenuhi satu meja. Seperti sedang merayakan sesuatu juga sama sepertiku dan teman-teman, tapi aku tak memperhatikan secara seksama siapa mereka.

Teman-temanku sibuk memesan makanan dan minuman, aku mengambil ponsel dari tas lalu mengeluarkannya. Kulihat tak ada pesan masuk yang baru, aku tak ingat pesan dari “hujan” yang sengaja kusimpan di archive message. Seolah-olah aku benar-benar melupakannya hari ini, aku tenggelam dalam duniaku sendiri sebagai seorang murid yang baru saja menyelesaikan tugas belajar selama 3 tahun.

Panasnya matahari kini telah menghipnotisku untuk melupakan hujan, aku benar-benar menikmatinya bersama teman-temanku sampai matahari tenggelam dan tergantikan oleh bulan.
  

Comments

Popular posts from this blog

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 5 Final)

Part 5 -payung- Setelah insiden ketiduran di angkot, aku mesti muter arah lagi untuk sampai kos-kosan. Selama di angkot, aku memutuskan untuk ga tergoda dengan lambaian angin dari kaca jendela walaupun akhirnya aku terlena kembali selama beberapa detik sampai nyaris terlewat dikit dari tempat yang seharusnya aku turun. “ Mantep amat pulang dari kampus ke kos-kosan sampai 3 jam yang biasanya cuma 1 jam-an sama macet, gara-gara rumus epek nih..”. aku berjalan ke arah kos-kosan sambil ngeliatin jam di tangan. Tiba di depan kos-kosan, Ibu kos udah nangkring jah depan kamarku. Sambil mikir-mikir ada apa gerangan, padahal uang bulanan kosan udah dibayar tepat waktu, ga pernah ngutang juga, apalagi bawa cewek ke kamar juga ga pernah. “Apa gara-gara aku suka ngabisin air lebih banyak ya kalau mandi, atau ketauan aku pernah ambil jatah makanan anak kosan sebelah gitu ? lagian ga pernah diambil juga, sayang kalau ga dimakan kan buang rejeki..”. aku masih menerka-ner...

Understand - Matahari yang tak pernah kembali bersinar

19 Juli 2017, 11.20 am Taman Kota Tua samping Spiegel Bar & Resto, Semarang “Kenapa sih diantara tahun-tahun yang sudah terlewat, kamu mesti memilih tahun ini untuk kesini lagi ? 8 tahun bukan waktu yang singkat, Ga..”.  Aku memulai percakapan setelah hampir kurang lebih 20 menit kita berdiam diri di taman kota tua. “Entahlah.. Aku hanya rindu tempat ini, Van..”.  Pandangannya tetap lurus ke sepanjang jalan kota tua tanpa melihatku. “Rindu Lea juga ?”.  Aku berkata pelan sambil melihat ekspresinya. Ekspresinya ga berubah, terlihat datar dan dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengambil IPodnya lalu memasang Playlistnya, karena hari ini termasuk hari sekolah jadi hanya ada beberapa yang duduk di taman ini termasuk kita.  Send your dreams were nobody hides Give your tears to the tides No time No time “Apa kabarnya ya dia sekarang, Ga ? Terakhir kudengar dari Seila, dia masih kuliah semester akhir”.  Aku kembali membuk...