Chapter 10 – Oktober
(Still In Here)
In Cafe..
“ian,
ngapain kamu di sini ? bukannya kamu lagi di Jakarta yah, kenapa ada di Bandung sekarang ?”. aku mendengar seseorang sedang berjalan ke
arahku, aku langsung menoleh ke arah suara. Aku melihat teman kampusku dulu,
Ana, sudah lama tak bertemu kini dia jauh lebih feminim dan cantik.
“hallo
Ana, apa kabar kamu sekarang ? iya nih, lagi merindukan Bandung haha..”. sambil
bercanda aku mempersilahkan Ana untuk duduk di mejaku, namun Ana menolak dengan
alasan dia sudah duduk di meja belakang bersama teman-temannya. Ternyata Ana
melihatku saat kembali dari meja kasir depan, “kabar aku baik, tadi aku sempat ga yakin kalau itu kamu soalnya aku
masih ingat headphone yang sering kamu pakai ini makanya aku samperin..
ternyata memang benar kamu, lagi janjian sama seseorang di sini ?”. pertanyaan
Ana hanya kubalas dengan gelengan kepala sambil tersenyum, lalu kubilang
padanya aku hanya merindukan suasana café saja. Tentu saja jawabanku tak akan
bisa membuatnya langsung percaya begitu saja, dia tertawa begitu mendengar
penjelasanku.
“kamu
itu ga pernah berubah ya, ian.. memangnya kamu lupa kalau aku sudah tau
semuanya, kamu masih belum bisa move on dari mantan kamu itu kan ?”. aku
hanya tertawa saat Ana menanyakan hal itu padaku, “jaaaah.. Ana, Ana, sebelum wisuda juga aku sudah melupakannya total
jadi ga mungkin banget aku masih belum bisa move on sampai sekarang haha..”. dengan rasa penasarannya, akhirnya Ana duduk
juga di sebelahku,“terus, kamu lagi
nunggu siapa sekarang ?”. aku tak langsung menjawabnya, aku berbalik
memandangnya sambil tersenyum. Ana yang
menunggu jawaban dariku tak menyadari dan masih terus menunggu, aku yang
menyadari hanya cuek saja sambil melihat menu makanan. Merasa tak kunjung ada
jawaban dariku, ana mulai bertanya kembali padaku. “ian.. kenapa ga dijawab ?”. ana terlihat tak sabar melihat
reaksiku yang masih tenang, “kamu dari
tadi nunggu aku, na ?”. gurauanku disambut oleh pukulan kecil di bahuku,
aku hanya tertawa sambil pura-pura meringis kesakitan.
“apa
yang dulu suka ngirim pesan waktu hujan bukan ?”. aku
langsung berhenti tertawa saat tiba-tiba ana bicara seperti itu, raut wajahku berubah
dan ana dapat melihatku dengan begitu jelas perubahanku seketika. “ga perlu kamu bilang, aku bisa tau dari
wajah kamu..”. aku masih terdiam, pandanganku melihat ke arah luar jendela
namun kosong. “kamu itu aneh, ian..
mantan yang sudah jalan sama kamu lama tapi dengan mudah kamu bisa lupain, ini hanya
berupa pesan singkat yang selalu datang cuma pada saat hujan turun dan kamu
juga belum tau itu siapa sampai sekarang kamu masih belum bisa lupain..”.
aku hanya menunduk
memandangi secangkir cappuchino hangat yang lama tak kusentuh, kuteguk sedikit
lalu kunikmati rasa yang sekarang jauh berbeda dari waktu masih panas. Rasanya
dingin, tak begitu enak seperti kenyataan hidup yang tak selalu berakhir manis.
In
the same time, the door in front of café was open, and my eyes was automatic
looking straight to the door in front of café. Someone who just come to the
inside café looking around and suddenly our eyes met each other..
Beberapa detik pandangan kami saling bertemu, namun
alam bawah sadarku langsung membuatku tersadar seketika. Aku bisa melihat raut
wajahnya terlihat kaget sama sepertiku, namun setelah itu dari arah belakang
seseorang menghampirinya lalu memegang tangannya dan mencari tempat meja yang
masih kosong. Mereka berjalan ke arahku, jantungku tiba-tiba berdegup kencang
dan ana yang dari tadi sedang berusaha mengajakku ngobrol tampak tak
kuperhatikan. Mereka lalu duduk di belakang mejaku, aku dan dia saling
membelakangi.
Perasaanku campur aduk,
antara senang karena akhirnya tak sengaja bisa bertemu kembali dengannya
setelah sekian lama, dan ada perasaan tak enak hati karena bertemu disaat waktu yang kurang tepat. “aku harus pergi dari sini
sekarang juga..”. aku buru-buru membereskan yang ada di meja dan memasukkan
ke dalam ransel, ana yang melihatku langsung menahanku. “ian, kamu ga dengerin dari tadi aku ngomong apa ya.. kamu mau kemana
tiba-tiba gini, orang yang kamu tunggu sudah datang ya?”. Aku diam sejenak untuk mencoba menutupi
kegelisahanku agar tak terlihat oleh ana, setelah menarik nafas panjang aku
lalu menjelaskannya.
“Ana,
aku minta maaf sepertinya aku harus pergi.. aku harus ke stasiun sekarang
karena sebentar lagi keretanya akan datang”. Ana hanya terdiam, dia melihat wajahku
sebentar sebelum melepaskan tanganku.
“dia ada disini ?”. pertanyaan ana
yang to do point langsung
menyentakku, tangannya kulepaskan dari tanganku. “aku harus pergi, Ana.. ..”. kuambil ransel dan aku berjalan lurus
tanpa melihat sekeliling, langsung menuju arah pintu keluar café. Setelah aku
keluar dari café, aku berjalan pelan tanpa berusaha melihat ke belakang. “aku seharusnya tak berada di sini..”. aku
menyesal telah mengikuti kata hati, tanpa pikir panjang aku berangkat jauh-jauh
naik kereta supaya bisa mencarinya ke bandung.
Namun setelah tak sengaja
bertemu dengannya hari ini, yang aku rasakan hanya rasa sakit di dada. Mungkin
aku belum siap saat akan bertemu dengannya, mungkin
aku harus bertemu dengannya nanti, mungkin.. mungkin..
yah.. hanya mungkin yang terus ada di pikiranku saat ini. Aku memandang langit,
“apa kamu sedang menghukumku karena aku
sempat melupakanmu begitu lama, dan baru kemarin aku di ingatkan kembali
olehmu.. ?”. aku berkata sendiri
sambil terus menatap langit yang mulai berubah menjadi gelap dan
bintang-bintang pun keluar dari tempat persembunyiannya, langkah kaki pun semakin
lama semakin terasa berat seperti matahari yang enggan untuk pergi.
Ponselku tiba-tiba
bergetar, aku mengambil dan langkahku terhenti seketika saat aku melihat di layar ponsel ada pesan
masuk dari “hujan”. aku terdiam setelah membacanya, mencoba untuk mengetik
sesuatu di layar ponsel tapi langsung kuhapus lagi sampai akhirnya aku tak jadi
balas pesannya. Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku jaket dan melanjutkan
kembali berjalan dan tersenyum,
“harapan itu tak selalu berhasil, namun setidaknya hari ini aku sudah berusaha untuk melakukan hal yang seharusnya sudah aku lakukan 6 tahun yang lalu.. terima kasih, hujan..”.
Comments
Post a Comment