Chapter 3 - Stranger
(Another day)
Sabtu
malam seperti biasa aku dan teman-teman nongkrong di salah satu café yang
berada di Mall terkenal daerah Cihampelas, menghabiskan malam bersama teman
sampai larut malam selalu menjadi ritual karena hubungan aku dan pacarku bisa
dibilang agak renggang. Entah masih ada kehidupan untuk kedepannya, aku tak
pernah ambil pusing memikirkannya karena dia saja mungkin tak pernah
memikirkannya. Sudah hampir 5 bulan, kami tak pernah berkomunikasi bahkan
sekedar mengirim pesan singkat atau telepon.
Seharian
langit tampak cerah, bahkan siang hari begitu panas sampai keringat pun
membasahi keningku ketika berjalan. Di tengah percakapan aku dan teman-teman,
rintik-rintik hujan mulai berjatuhan dan menyadarkan kami yang sedang duduk di
luar untuk segera pindah ke dalam café. Tak lama, rintik hujan itu berubah
menjadi hujan yang deras. Banyak orang-orang yang sedang menikmati jalan-jalan
di sekitar Mall berlarian ke dalam Mall, dan yang tersisa hanya derasnya hujan disertai
kilatan petir.
Ponselku
bergetar, aku mengambil dari saku jaket lalu membacanya, “it’s rainy tonight, wish I can meet you again..”. aku terdiam
sesaat, pesan ini selalu datang ketika hujan turun. Entah dari kapan mulainya,
yang pasti aku pun selalu menunggu datangnya pesan dari nomor yang tak
diketahui siapa pemiliknya. Mungkin karena pesan itulah, kenapa aku tiba-tiba
menunggu datangnya hujan dan mungkin karena itu juga kenapa aku sangat merindukan
hujan.
Malam semakin larut, hujan belum menunjukkan kapan akan berhenti. Satu-persatu teman pulang duluan dengan mengandalkan jas hujan, aku bawa jas hujan, hanya malas untuk memakainya dan memilih untuk menunggu sampai reda. Kebetulan malam minggu, café buka sampai agak larut malam jadi tak perlu kawatir. Tinggallah aku sendiri, hanya ditemani secangkir kopi dan musik di headphone.
aku
kembali membuka ponsel lalu membaca pesan yang masuk dari seseorang yang
kunamai di kontak dengan nama “hujan” beberapa jam yang lalu, karena setiap
kali turun hujan selalu saja ada pesan masuk dari nomor kontak ini. Awalnya aku
mencurigai nomor kontak ini sebagai ulah teman-teman kampus, tapi aku tak
menemukan bukti bahwa teman-teman aku yang melakukannya. Dari awalnya yang
penasaran untuk mengetahui siapa di balik seseorang yang sealu mengirimkan
pesan ini ketika hujan datang sampai akhirnya aku menyerah untuk tak mencari
tahu lagi dan mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Kedua
tanganku lalu sibuk mengetik beberapa baris kata untuk kukirimkan,
“bulan tak pernah bercahaya,
bintang pun tak pernah bersinar..tapi kenapa matahari selalu bercahaya dan
bersinar setiap detik, dan hujan selalu meneteskan air setelah kilatan petir
membangunkan dunia ?”. pesan akhirnya terkirim ke
kontak “hujan”, aku meletakkan kembali ponsel dan melanjutkan melihat hujan
dari balik jendela. Selang beberapa menit kemudian, kembali ponselku bergetar
dan aku melihat ada pesan yang masuk, kubuka dan kubaca pesan yang ternyata
datang dari nomor yang sama, “karena
bulan dan bintang tak perlu memperlihatkan apa yang tak bisa dilihat dari luar,
namun bisa memperlihatkan diri dari dalam..”. aku pun tak membalasnya kembali dan meletakkan
ponselku di dalam saku jaket. Hujan masih terus meneteskan air, hanya kini
kilatan petir tak menampakkan diri lagi seiring dengan berjalannya waktu.
Still in the cafe..
Suasana
malam minggu tak begitu secerah siang tadi, langit sudah memberikan tanda-tanda
akan datangnya hujan. Aku baru saja melangkahkan kaki ke arah salah satu café
tempat dimana aku akan bertemu dengan teman-teman, aku masuk dan melihat
sekeliling café yang tak begitu ramai hanya beberapa orang yang masih menjadi
pelanggan setia dengan duduk santai ditemani oleh lagu-lagu dari café.
Teman-temanku sudah ada yang datang, mereka terlihat di pojokan café yang
selalu jadi tempat favorit karena tak begitu ramai seperti di depan café. Aku
pun menghampiri mereka, dan memesan secangkir cappuchino.
“sepertinya bakal hujan deh, sha..”. salah
satu temanku kembali mengingatkanku, dan aku pun tersenyum balik, “ya, aku memang menunggu momen datangnya
hujan..”. aku mengakuinya dalam hati, aku memang selalu berharap hujan bisa
turun malam ini agar aku bisa mengirimkan pesan padanya. Aku membuka tas dan
mengambil ponsel untuk kuletakkan di atas meja, ingatan tentang minggu lalu
masih terus membekas dan setelah kejadian itu aku selalu berdoa semoga hujan
turun.
Tuhan
mendengarkan doaku malam ini, rintik-rintik hujan mulai berdatangan dan terus
berdatangan sampai menjadi deras. Mataku melirik ke arah ponsel, dan
mengambilnya untuk mengirim beberapa baris kata, “it’s rainy tonight, wish I can meet you again..”. setelah yakin,
aku langsung mengirimkannya ke nomor kontak yang entah sejak kapan kunamai
dengan “hujan” dan pesan pun terkirim.
Nomor
kontak yang kunamai dengan “hujan” ini sudah tersimpan di kontak ponselku, aku
sendiri masih bertanya-tanya kapan aku menyimpan nomor kontak ini di ponselku ?
kenapa aku tak ingat sama sekali siapa pemilik nomor ini, dan kenapa aku menamainya
dengan “hujan”. “ah..mengapa aku tak bisa
mengingatnya sama sekali, tak ada petunjuk, tak ada memori yang tersimpan
sedikitpun di otakku, dan tak ada history di ponselku..”. semakin aku
berusaha untuk mengira-ngira siapa, malah aku mendapatkan jalan buntu.
“biarkan saja lah, mungkin
suatu saat aku akan mengetahui siapa hujan di kontak ponselku..”.
aku berusaha meyakinkan diri sendiri, aku bisa menemukan siapa sosok hujan ini
suatu hari nanti ketika waktunya tiba.
Tak
terasa waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, hujan belum menunjukkan
tanda-tanda akan reda. Pengunjung café sedikit demi sedikit memilih untuk
pulang, tersisa hanya beberapa orang yang masih asik dengan dunia mereka
masing-masing termasuk aku dan teman-teman. Sedang asik bersenda gurau dengan teman-teman,
ponselku bergetar dan kulihat di layar ponsel ternyata dari “hujan”. Langsung
kubuka dan kubaca pesannya, “bulan tak
pernah bercahaya, bintang pun tak pernah bersinar..tapi kenapa matahari selalu
bercahaya dan bersinar setiap detik, dan hujan selalu meneteskan air setelah
kilatan petir membangunkan dunia ?”. kata-katanya terlalu berat untuk di
mengerti oleh seorang remaja SMA sepertiku, aku tak bisa membalas pesannya
langsung karena aku harus mengetahui apa maksud dari kata-katanya. “huft..kata-katanya lebih sulit daripada
tugas matematika tadi pagi..”. tanganku masih saja diam tak bergerak di
pinggir layar ponsel, belum ada satupun kata-kata yang melintas di pikiranku.
Aku membaca lagi isi pesannya berulang-ulang, sampai aku tau kata-kata untuk
membalas pesannya. Tanganku langsung sibuk mengetik baris-baris kata, “karena bulan dan bintang tak perlu
memperlihatkan apa yang tak bisa dilihat dari luar, namun bisa memperlihatkan
diri dari dalam..”. setelah itu, aku
langsung mengirimkannya. Pesan terkirim!.
Comments
Post a Comment