Skip to main content

Part-11

Chapter 11 – Oktober
(I Choose You)


Setelah semua yang terjadi kemarin, aku mencoba untuk melupakan sejenak walaupun ketika aku sendiri bayangan tentang “hujan” selalu hadir di benakku. Aku mencoba jalanin hari-hari seperti biasa aku lakuin selama ini, begitu juga hubunganku dengan sena.

Tak terasa jam istirahat sudah tiba, aku tak mendengar suara ribut pasien dari luar ruanganku. Ketika akan beranjak, ponselku bergetar. terlihat di layar ponsel kalau sena yang menghubungiku, sudah menjadi kebiasaan setiap jam istirahat sena selalu menyempatkan diri untuk menghubungiku sebentar untuk menanyakan kabarku. 

Marsha : “iyah sen..”
Sena :”gimana hari ini, sudah agak mendingan sakitnya ?”.
Marsha :”iyah, sudah mendingan.. gimana kerjaan kamu hari ini, lancar ?”.
Sena :”alhamdulillah kalau sudah baikan, kerjaan aku hari ini lumayan sibuk tapi masih lancar ko!”.
Marsha :”nanti sabtu jadi mau nonton atau mau jalan-jalan saja ?”.
Sena :”dua-duanya juga ga masalah, sayang..”.
Marsha :”hehe.. ya udah kalau gitu, sampai ketemu besok.. on time ya!”.
Sena :”di usahakan haha..”.

Setelah itu percakapan antara aku dan sena berakhir, lalu aku membereskan meja dan keluar dari ruangan untuk beristirahat bersama rekan kerja yang lain. Hari ini berjalan dengan biasa, di dukung oleh cuaca yang cerah juga tak terlalu banyak pasien datang sampai jam 4 sore, aku bisa pulang tanpa harus lembur dan istirahat lebih awal karena besok pagi sena akan datang untuk menjemputku.

Keesokan paginya aku terbangun dengan lebih segar, aku tidur cukup terbilang lama kemarin. “selamat pagi mentari..”. aku membuka jendela kamarku, lalu beranjak untuk bersiap-siap karena sebentar lagi sena akan datang. Setiap akhir minggu, aku selalu pulang ke rumah karena memang libur dan untuk mencuci beberapa pakaian kotor yang tak bisa di bersihkan karena sulitnya air di tempat kosanku sehingga aku harus irit menggunakan air. Beruntungnya setelah memasuki bulan Oktober, hujan mulai turun walaupun tak sering setidaknya aku sudah bersyukur masih bisa turun hujan. 

Selesai mandi dan menyiapkan segala sesuatunya hingga pukul 10 tepat, aku melihat ke arah luar dari balik jendela yang memang bisa terlihat jelas halaman depan kosan belum ada tanda-tanda bahwa sena akan datang.

Arloji di tanganku sudah menunjukkan pukul 10.45, bolak-balik aku melihat ke arah luar melalui jendela kamar namun aku masih belum bisa melihat kendaraan sena. “susah banget sih untuk bisa datang tepat waktu..”. aku melemparkan tas ke atas tempat tidur, kuambil ponsel lalu aku mengirim pesan untuk sena menanyakan posisinya dimana. Tak lama pesan pun terbalas darinya yang membuatku makin kesal atas jawabannya, “maaf sayang, aku tadi bangun kesiangan.. sekarang baru mau berangkat, tunggu ya..”. aku tak membalasnya lagi, hanya menahan kesal karena sudah terlalu sering sena begini dan ketika datang selalu minta maaf. 

Ketika sena datang, seperti biasa minta maaf atas keterlambatan dan menjelaskan alasannya mengapa. Buatku itu tak berguna karena mood  aku sudah terlanjur berubah, bahkan selama perjalanan menuju kerumahku di bandung aku masih diam. Aku tahu sena berusaha untuk membuat suasana di dalam mobil berubah tak menjadi dingin, tapi aku tetap tak berminat untuk menanggapinya dan terus saja melihat ke luar jendela mobil sampai akhirnya sena menyerah dan ikut diam juga.

Pukul 1 siang, aku dan sena akhirnya sampai juga dirumahku. Akhir minggu jalan memang selalu macet, dan beberapa kali terjebak macet di daerah tertentu sampai akhirnya tiba dirumah. Aku bertemu dengan kedua orang tuaku dan kedua adikku, sena menunggu di ruang tamu sambil menungguku membereskan baju-baju kotor yang aku bawa dari kosan. Pukul 3 lebih aku dan sena pamit keluar untuk jalan-jalan, sempat terjebak macet juga di sekitar jalan Pasteur dan Cihampelas. 

“akhirnya sampai juga, macetnya juara bandung..”. aku keluar dari dalam mobil, sementara sena masih sibuk cari parkiran yang kosong di basement. Sambil menunggu sena, aku berjalan ke arah luar untuk menikmati suasana sore hari di Cihampelas Walk. Tak lama sena pun keluar dari arah parkiran dan berjalan menuju arahku, kita akhirnya baikan lagi setelah aku melihat upaya sena mengajakku untuk mengubah suasana dan mencoba meminta maaf padaku di sepanjang perjalanan ke sini. 

Ada satu café yang selalu aku kunjungi dari jaman sekolah aku dulu, tapi akhir-akhir ini karena jarak aku bekerja cukup jauh jadinya aku jarang sekali ke sini. Baru kali ini aku sempatkan kesini bersama sena, pertama kalinya aku memperkenalkan café langgananku kepadanya. 

Aku masuk ke dalam duluan karena saat akan masuk ke dalam, sena dapat panggilan telepon dari kantornya. Begitu aku masuk, aku melihat sekeliling untuk mencari meja kosong yang dekat dengan jendela. 

And our eyes finally met each other...

Aku terpaku diam, dalam jarak yang tak begitu jauh aku melihatnya.. melihat seseorang yang sudah lama tak kulihat dan tak kuketahui kabarnya setelah kejadian di toko buku 6 tahun yang lalu, kini seseorang itu ada di hadapannya sama-sama melihatku. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang, perasaanku langsung meluap seperti gunung yang hampir meletus karena besarnya emosi yang kutahan. Ada rasa ingin melangkahkan kakiku untuk menghampirinya, sena datang dan membuat keinginanku langsung tertahan. 

Aku mengalihkan pandanganku seketika itu juga ke arah sena, berusaha untuk bersikap biasa. Lalu sena memegang tanganku setelah menunjuk ada meja kosong yang tepat di sebelah dia, seseorang yang ingin kutemui tadi. Semakin dekat langkah kakiku melangkah, semakin terasa berat ketika aku mendekatinya dan aku tak berani memandangnya ataupun melihat ekspresinya. Aku hanya melihat sekilas ada seorang perempuan yang duduk di sebelahnya, perasaanku campur aduk saat aku duduk membelakanginya. Posisi dimana aku dan sena sekarang dan posisi dimana dia dan seorang perempuan itu berada rasanya seperti aku tak bisa berbuat apa-apa, konsentrasiku buyar begitu saja entah ada dimana ketika sena berusaha mengajakku ngobrol tapi aku tak mendengarkannya. 
  
Saat sena memegang kedua tanganku yang kutaruh di meja, dengan refleks aku melepaskannya. Sena yang melihat reaksiku langsung bertanya, “sayang, kamu ga apa-apa ? aku lihat dari tadi kamu gelisah terus, ada apa sih ?”. belum aku menjawab, aku mendengar suara kursi dari arah belakang. Lalu aku melihat dia pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang dan meninggalkan perempuan yang disampingnya begitu saja, perasaanku semakin kacau setelah dia pergi. 

“ayo marsha, ini kesempatan kamu untuk ketemu dia disini.. jangan sampai kamu menyesal kalau tak bertemu dengannya sekarang..”. aku bergumam dalam hati untuk memantapkan lagi apa yang bakal aku lakuin, aku melihat sena yang masih dengan perasaan cemas melihatku. Aku kemudian berdiri dan meminta maaf pada sena yang makin bingung dengan sikapku, “aku harus pergi sekarang, maafin aku.. aku ga bisa menunggu lama lagi, sen.. aku akan jelaskan semuanya sama kamu nanti”.  Setelah itu aku langsung berjalan cepat ke arah pintu keluar café dan meninggalkan sena sendirian, sena yang melihat aku meninggalkannya hanya bisa menarik nafas panjang. 

Aku berjalan melihat kanan kiri berharap dia masih belum terlalu jauh, “tuhan, aku ga mau kehilangan kesempatan ini lagi seperti dulu.. biarkan aku ketemu dengannya sekali saja..”. aku berdoa dalam hati karena gelisah belum juga melihat sosoknya dari jauh juga, langkah kakiku semakin cepat. 

Saat aku mencoba berlari, aku melihatnya berjalan dari arah samping. Jantungku berdegup lagi saat melihatnya, dia berjalan ke arahku namun dia masih belum menyadari aku berada di depannya. Aku mengeluarkan ponsel, lalu mengetik sebuah pesan kepadanya. Nomornya yang kudapatkan saat adikku menanyakan soal pesan yang berada di archive message kusimpan kembali ke ponsel baruku, dan kini aku punya kesempatan untuk mengawali sebuah percakapan padanya.

“bintang kini telah bersinar di langit, bulan masih mencoba untuk menembus awan yang kini menjadi gelap.. bisakah aku yang kini menghilang bersama hujan kini hadir tanpa harus bersamanya untuk menemuimu ?”. pesan pun terkirim kepadanya, aku melihat dari jauh dia mengambil ponselnya dan membacanya sambil berjalan namun terhenti setelah selesai membacanya. 

Cukup lama dia berdiri sambil melihat terus ponselnya, lalu melihat ke sekelilingnya sampai pandangan matanya akhirnya bertemu dengan pandangan mataku lagi. Dia memasukkan kembali ponselnya lalu berjalan mendekatiku sambil tersenyum, sampai akhirnya begitu dekat. dia bilang kepadaku kalau balas pesanku disini saja langsung, aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. 

“kini bulan sudah menembus awan dan ikut bersinar bersama bintang, mulai sekarang tanpa perlu bersama hujan kamu bisa menemuiku kapan saja..”. kata-katanya membuatku tertawa kecil, aku teringat dengan waktu pertama kali bertemu di toko buku.. dia selalu mengganti kata-kataku dengan sedikit perubahan namun masih sama dengan kata-kataku sebelumnya, “huh.. kamu selalu jiplak kata-kata aku, buat yang baru dong!”. Dia hanya tertawa begitu aku balas kata-katanya, setelah itu dia langsung memperkenalkan diri. 

“nama aku ian, senang bisa kenal sama kamu..”. aku sedikit bingung, namun aku membalasnya juga. “nama aku marsha, senang juga bisa kenal sama kamu lagi..”. setelah perkenalan yang tiba-tiba diawali olehnya, kami akhiri dengan menertawai satu sama lain menyaksikan betapa kakunya kami berdua. Begitulah awal pertemuan aku dan dia setelah 6 tahun berlalu, akhirnya kami bisa tahu kenapa dulu bisa sama-sama menyimpan nomor kontak dengan nama hujan. ternyata kita memang sudah kenal secara tak sengaja ketika bertemu secara tak sengaja juga di jalan dan pada saat hujan, ian pernah menolongku meminjamkan aku payung dan berjanji akan mengembalikannya dengan menyimpan nomor kontaknya di ponselku dan begitu juga sebaliknya. setelah kejadian itu, aku yang lupa tak memberi kabar dan payung itu sekarang sudah entah ada dimana hehe.. kami memulai dari awal lagi tanpa kehadiran “hujan” di kontak kami dan berubah menjadi nama kami yang tersimpan di masing-masing kontak ponsel kami. 

Dari kejauhan, mungkin sena melihatku bersama ian dan mengirim pesan untukku. “harapan itu kini ada di depan kamu, buat harapan itu menjadi kenyataan, aku akan sangat kecewa jika kamu mempunyai harapan yang tak bisa kamu raih, marsha..”. setelah aku membacanya, aku melihat ke sekeliling namun aku tak menemukan sena. Kemungkinan sena melihat semuanya, aku kemudian mencoba menghubungi sena tapi tak diangkatnya. Aku meninggalkan ian setelah menjelaskan padanya tentang apa yang terjadi, lalu dia mengerti dan membantuku mencari sena ke arah parkiran mobil di basement. Beruntungnya aku, mobil sena baru saja hendak keluar dan aku berdiri di depan mobilnya agar mobilnya mau berhenti. Sena pun keluar dan melihat ada ian disampingku, aku kemudian berusaha menjelaskan padanya agar mau mengerti supaya tak ada salah paham. 

“kamu ga perlu cemburu sama ian, kita ga ada hubungan apa-apa.. kita hanya berusaha menyelesaikan sesuatu yang seharusnya sudah kita lakukan 6 tahun yang lalu, hanya waktu yang membuat kita sama-sama melupakan sejenak dan baru teringat kembali saat turun hujan dan kejadian-kejadian yang mengingatkanku kembali padanya.. kita hanya sebatas teman yang   sama-sama penyuka hujan, ga lebih dari itu..”.

aku memegang tangan sena, kulihat ekspresi sena kini tak lagi kaku dan canggung melihat ian. Setelah itu sena langsung memelukku, dan ian terlihat lega. Aku dan sena mengantarkan ian ke stasiun bandung, setelah berpisah dengan ian, aku dan sena melanjutkan perjalanan pulang karena hari sudah malam. Tak terasa waktu begitu cepat, namun hari ini aku berhasil menentukan harapan baru di awal pertemuan aku dan ian dan melanjutkan harapan yang kini ada di depan mataku, yaitu bersama sena.. 

~selesai~

Comments

Popular posts from this blog

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 5 Final)

Part 5 -payung- Setelah insiden ketiduran di angkot, aku mesti muter arah lagi untuk sampai kos-kosan. Selama di angkot, aku memutuskan untuk ga tergoda dengan lambaian angin dari kaca jendela walaupun akhirnya aku terlena kembali selama beberapa detik sampai nyaris terlewat dikit dari tempat yang seharusnya aku turun. “ Mantep amat pulang dari kampus ke kos-kosan sampai 3 jam yang biasanya cuma 1 jam-an sama macet, gara-gara rumus epek nih..”. aku berjalan ke arah kos-kosan sambil ngeliatin jam di tangan. Tiba di depan kos-kosan, Ibu kos udah nangkring jah depan kamarku. Sambil mikir-mikir ada apa gerangan, padahal uang bulanan kosan udah dibayar tepat waktu, ga pernah ngutang juga, apalagi bawa cewek ke kamar juga ga pernah. “Apa gara-gara aku suka ngabisin air lebih banyak ya kalau mandi, atau ketauan aku pernah ambil jatah makanan anak kosan sebelah gitu ? lagian ga pernah diambil juga, sayang kalau ga dimakan kan buang rejeki..”. aku masih menerka-ner...

Understand - Matahari yang tak pernah kembali bersinar

19 Juli 2017, 11.20 am Taman Kota Tua samping Spiegel Bar & Resto, Semarang “Kenapa sih diantara tahun-tahun yang sudah terlewat, kamu mesti memilih tahun ini untuk kesini lagi ? 8 tahun bukan waktu yang singkat, Ga..”.  Aku memulai percakapan setelah hampir kurang lebih 20 menit kita berdiam diri di taman kota tua. “Entahlah.. Aku hanya rindu tempat ini, Van..”.  Pandangannya tetap lurus ke sepanjang jalan kota tua tanpa melihatku. “Rindu Lea juga ?”.  Aku berkata pelan sambil melihat ekspresinya. Ekspresinya ga berubah, terlihat datar dan dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengambil IPodnya lalu memasang Playlistnya, karena hari ini termasuk hari sekolah jadi hanya ada beberapa yang duduk di taman ini termasuk kita.  Send your dreams were nobody hides Give your tears to the tides No time No time “Apa kabarnya ya dia sekarang, Ga ? Terakhir kudengar dari Seila, dia masih kuliah semester akhir”.  Aku kembali membuk...