Chapter 1 - Stranger(It will rain)
“Just because something isn’t happening right now,doesn’t mean that it will never happen”. Unknown
Ah,
hujan..
Aku
melihat ke arah jendela, setelah dosen keluar dari kelas. Hari ini sudah tak
ada kelas lagi, aku langsung mengeluarkan headphone dan mulai mendengarkan
musik yang keluar dari ipod. Buatku mendengarkan musik di tengah rintik hujan
adalah salah satu kegiatan favoritku ditambah sambil melihat hujan dari balik
jendela, perasaan tenang terasa hadir dan aku menikmatinya.
Entah
sejak kapan aku mulai menyukai keberadaan hujan, rasanya sudah begitu lama aku
tak pernah merasakan tenangnya hati ini saat melihat rintik hujan membasahi
bumi. Arah pandangan mataku melihat ke sekeliling luar jendela, melihat jalanan
yang macet, orang-orang yang berlarian untuk mencari tempat berteduh,
pengendara motor yang lupa membawa jas hujan lebih memilih berhenti daripada
melanjutkan. Hujan telah membuat panasnya cuaca siang ini menjadi lebih sejuk
dan dingin.
Dari
arah seberang jalan, aku melihat sebuah mobil yang dari tadi terlihat aneh
jalannya. Sebentar maju lalu berhenti, dan maju lagi lalu berhenti lagi hingga
akhirnya benar-benar berhenti tepat di tengah jalan. Aku memperhatikan mobil
yang mogok, tapi pengemudi mobil itu belum juga keluar dari dalam mobil.
Sementara dari belakang mobil itu, klakson mulai berdatangan karena lampu merah
di depan sudah berganti menjadi lampu hijau. Aku melihat ke arah depan jalan,
karena biasanya hampir setiap hari ada petugas polisi yang berjaga di antara
lampu merah. Namun siang ini, para petugas tak menampakkan diri, mungkin karena
hujan dan mereka enggan untuk berbasah-basahan.
Aku
melihat lagi ke arah mobil yang mogok itu, karena pintu mobilnya terbuka dan
keluarlah sosok perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah SMA. Dia hanya
sendiri, aku lantas berpikir mungkin dia panik tak tahu harus berbuat apa
karena itu dia tak berani untuk keluar mobil. Dia berusaha meminta tolong ke beberapa orang
yang sedang berteduh, beruntungnya di tengah hujan yang deras beberapa orang
mau menolongnya dan mendorong mobilnya ke pinggir jalan agar tak membuat
jalanan tambah macet. Dia membungkuk ke arah mobil-mobil yang dia buat terhenti
karenanya dengan maksud meminta maaf, setelah itu dia mulai sibuk menghubungi
seseorang entah siapa melalui ponselnya. Dia berjalan ke arah tempat tepat di
pinggir mobilnya untuk berteduh, sambil menunggu datangnya seseorang yang dia
hubungi. Terlihat seragamnya basah kuyup, serta wajahnya yang menyembunyikan
rasa dingin.
30
menit pun berlalu, tak nampak ada yang menghampirinya. Rasa panik masih
terlihat jelas dari wajahnya yang terus-menerus melihat ke arah kanan dan kiri
berharap ada seseorang yang dia kenal dan mau berhenti untuk menolongnya.
Tiba-tiba ponselku bergetar dan aku membacanya,“wish you were here, maybe you can help me..”. aku terdiam sesaat
setelah membacanya, lalu memasukkan kmbali ponselku ke saku jaket. Ketika aku
melihat ke arah jendela lagi untuk melihat perempuan itu, ternyata sudah ada
dua orang yang sedang menolongnya menyalakan mesin mobilnya. Tak butuh waktu
lama, mobil itu sudah bisa jalan lagi. Wajahnya kini tak menunjukkan panik,
kini terlihat perasaan lega dan senang. Setelah mengucapkan terima kasih yang
terlihat dari bahasa tubuhnya ke dua orang yang membantunya, dia masuk ke dalam
mobil dan melanjutkan perjalanannya.
Ponselku kembali bergetar dan aku membaca pesan yang baru masuk, “thanks!”. Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket dan beranjak keluar kelas, hujan yang deras pun berganti menjadi rintik-rintik hujan. Melihat rintik-rintik hujan langsung lebih bagus daripada hanya melihat dari balik jendela, karena aku bisa langsung mendengarkan alunan rintik hujan yang lebih jelas terdengar. Sambil berjalan ke arah parkiran motor, aku mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaket dan mengirim pesan, “when I see rainy, I’m thinking about you..”. setelah pesan terkirim, aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku jaket dan memakai helm lalu menyalakan mesin motor karena rintik-rintik hujan kini telah berhenti.
Ponselku kembali bergetar dan aku membaca pesan yang baru masuk, “thanks!”. Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket dan beranjak keluar kelas, hujan yang deras pun berganti menjadi rintik-rintik hujan. Melihat rintik-rintik hujan langsung lebih bagus daripada hanya melihat dari balik jendela, karena aku bisa langsung mendengarkan alunan rintik hujan yang lebih jelas terdengar. Sambil berjalan ke arah parkiran motor, aku mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaket dan mengirim pesan, “when I see rainy, I’m thinking about you..”. setelah pesan terkirim, aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku jaket dan memakai helm lalu menyalakan mesin motor karena rintik-rintik hujan kini telah berhenti.
Comments
Post a Comment