Chapter 2 - Stranger
(What the hell)
“aku ingin kita putus, aku
lelah sama kamu. bye!”.
Itulah
pesan yang baru masuk ke ponselku, aku hanya bisa tertawa kaku sambil membaca
lagi. Hampir lamanya tak ada kabar, tiba-tiba mengirim pesan seperti ini tuh
rasanya ingin menonjok wajahnya dan memasukkannya ke dalam kardus lalu tendang
ke kutub utara kalau bisa.
Mendadak
kepalaku terasa penat, hari ini tugas sekolah hampir semua mata pelajaran ada,
ditambah lagi jadwal pemantapan setiap hari dan tugas soal-soal yang harus
dikerjakan, lalu jadwal les sore hari, sekarang ditambah pesan masuk yang
datang, rasanya seperti bom yang sebentar lagi meledak. Aaaarrrrggghhh..!!! aku
meluapkan semua emosiku dengan memukul stir mobil, kuputar radio untuk
menenangkan hati. Terdiam sesaat sambil mendengarkan musik di dalam mobil,
seketika rintik-rintik hujan mulai membasahi kaca mobilku dan berubah menjadi
sangat deras. “aah..you always know,my
mood not good today..”. aku bergumam sambil menatap hujan, entah kenapa
setiap mood aku berubah, hujan selalu
datang menghampiriku seolah-olah mengerti dan ikut merasakan apa yang sedang
kurasakan.
Melihat
jam di tangan, aku kemudian menyalakan mesin mobil untuk bergegas pulang
kerumah dan bersiap-siap untuk pergi les. Hujan makin sangat deras, jalanan
macet dimana-mana karena hampir pengendara motor berhenti di pinggir jalan
untuk berteduh dan hampir menggunakan separuh jalan. Berulang kali aku
menggunakan klakson mobil agar mereka mau memindahkan motornya untuk tidak
berhenti di tengah jalan yang di atasnya adalah jembatan layang dan mereka
menggunakannya untuk tempat berteduh.
Macetnya
jalanan membuatku tak ingat kalau tangki bensin di mobil sedikit lagi dan aku lupa
mengisinya tadi pagi, aku tak menyadarinya sampai mobil tiba-tiba berhenti
begitu saja di tengah jalan. Aku yang tersentak kaget oleh kondisi mendadak
seperti ini mulai panik, berulang kali aku mencoba untuk starter mobil tapi
mesin mobil tetap tak mau menyala. Bunyi klakson mobil yang berada di belakang
mobilku terus-menerus berbunyi karena lampu hijau, lama terdiam di dalam mobil
aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Rasa gelisah, takut, panik,
bercampur menjadi satu saat itu juga.
Hujan
semakin deras, aku memberanikan diri untuk keluar dari mobil tanpa menggunakan
jaket atau payung. Mencoba meminta pertolongan dari beberapa orang yang sedang
berteduh untuk membantuku mendorong mobil ke pinggir jalan, tanganku mulai
sibuk menghubungi dan mengirim pesan ke orang rumah juga teman-teman terdekat.
rasa dingin tak kuhiraukan walaupun seragamku basah kuyup, dengan sabar aku
menunggu berharap ada balasan datang dari ponselku. Lama kumenanti, namun tak
ada satupun yang menghubungiku. Rasanya aku ingin menangis saja, setelah semua
yang terjadi hari ini. Aku membuka ponsel dan mengirim pesan, “wish you were here, maybe you can help
me..”. dan pesan itu langsung terkirim.
Aku
berusaha menahan rasa dingin yang kini terus menghampiriku, sambil terus melihat
hujan. Aku melihat dari arah seberang jalan, dua orang laki-laki datang dan
menghampiriku sambil bertanya ada yang bisa mereka bantu. Seperti mendapat
sebuah harapan baru, aku langsung menjelaskan kepada mereka dengan semangat dan
mereka langsung memeriksanya. Aku baru menyadarinya setelah salah satu dari
mereka bilang kalau bensin di tangki mobilku habis, dan mereka membantuku untuk
membeli bensin di pom bensin terdekat lalu mengisikannya untukku agar aku bisa
menjalankan mobilku sampai pom bensin. Tak henti-hentinya aku mengucapkan
terima kasih kepada mereka yang sudah menolongku, ternyata masih ada yang
perduli sama aku hari ini. Setelah memastikan mesin mobilku menyala, aku segera
bergegas menjalankannya ke arah pom bensin terdekat.
Akhirnya
aku menemukan pom bensin dan segera mengisikannya, perasaan senang campur lega
karena mobilku mogok bukan karena ada sesuatu melainkan bensin habis. Aku
mengambil ponsel dan mengirim pesan, “thanks!”.
Pesan terkirim, dan aku melanjutkan kembali perjalananku yang tertunda ke
rumah. Beberapa saat setelah aku mengirim pesan, untuk pertama kalinya ada
pesan yang masuk dari nomor yang sama sebelumnya aku kirim, “when I see rainy, I’m thinking about you..”.
untungnya tak ada mobil yang berada di belakangku saat aku mengerem mendadak
setelah membaca pesan yang baru saja masuk, aku memastikan pesan yang baru
masuk itu dari nomor yang sama dengan pesan yang selalu aku kirim saat hujan. “thank you for not letting me alone today”. aku
bergumam sambil tersenyum kecil, lalu kembali menjalankan mobil.
Comments
Post a Comment