Chapter 5 - Your Scent
(That Girl)
Hampir
3 bulan berlalu, aku mulai melupakan “hujan” karena matahari tak membiarkan
kilatan petir menghalanginya untuk terus menyebarkan panasnya ke bumi. Aku
kembali ke rutinitas biasa sebagai seorang mahasiswa yang mulai disibukkan
dengan skripsi, hampir setiap hari aku berada di depan layar laptop. Masih
banyak bahan-bahan yang harus kucari, karena aku tak menemukannya di
perpustakaan kampus. “sepertinya aku
harus mampir sebentar ke toko buku”. Aku melirik ke arah jam di tanganku
yang sudah menunjukkan waktu makan siang, tak terasa memang kalau banyak
aktifitas terkadang suka lupa waktu dan tak ingat istirahat.
Kuarahkan
motorku ke jalan menuju toko buku yang sering aku kunjungi untuk sekedar
melihat-lihat bahkan untuk membeli serial komik yang aku ikuti ceritanya,
jalanan agak macet sedikit karena banyak pegawai kantoran yang mau istirahat
dan anak-anak sekolah yang baru saja pulang atau yang baru mau masuk siang. Jarak
antara kampus dan toko buku tak memakan waktu lebih dari 10 menit, tapi karena
aku pergi di waktu makan siang jadi mengambil waktu kurang lebih 25 menit untuk
mencapai toko buku.
Setelah
kuparkirkan motorku, aku bergegas masuk kedalam. Suasana siang hari begitu
banyak anak-anak berseragam sekolah SMA nampak memenuhi seisi ruangan,
kemungkinan jam pulang sekolah dan jarak antara sekolah ke toko buku dekat.
kulangkahkan kakiku ke ruangan tempat dimana buku-buku teknik berada, baru saja
aku ingin masuk tiba-tiba dari arah belakang ada seorang perempuan yang
mengenakan seragam SMA menabrak bahuku. Buku-buku yang sedang dibawanya
terjatuh ke lantai, refleks aku berbalik dan membantu mengambilnya. “oh..maaf yah, jadi terjatuh bukunya..”.
perempuan itu tak mendengarkan permintaan maafku dan masih sibuk mengambil
buku-buku yang tercecer di lantai, sekilas kulihat buku-buku yang diambilnya
adalah buku-buku tentang kedokteran. “calon
dokter ternyata..”. aku mengambil buku yang terakhir ada di sebelahku
kepadanya, setelah itu dia baru sadar akan kehadiranku dan sempat membuatnya
agak terkejut sedikit. Kemudian aku meminta maaf padanya dan dia membungkuk sambil mengucapkan terima kasih
lalu pergi ke arah kasir, sedangkan aku kembali masuk ke dalam ruangan teknik
untuk mencari bahan-bahan yang kuperlukan.
aku
mencari ke beberapa rak buku, namun aku masih belum menemukan bahan-bahan yang cocok
untuk skripsiku. “mesti ke toko buku yang
di merdeka tampaknya, kurang lengkap disini”. Aku segera bergegas keluar
toko buku, dan berjalan ke arah parkiran motor. Sepintas kulihat perempuan berseragam SMA yang
menenteng plastik berisi buku-buku kedokteran yang kubantu mengambilnya sewaktu
dia menabrakku, sedang berjalan ke arah mobil yang di dalamnya ada seseorang
yang menunggunya. Entah apa yang sedang kupikirkan, tiba-tiba aku mengejarnya
dan tanganku menarik tangannya dari
belakang sehingga membuat dia terkejut atas aksiku yang secara tiba-tiba ini. beberapa detik kami
bertatapan muka, dan aku melepaskan tangannya sambil tersenyum lalu memegang
bahunya. “kalau kita mesti menyambut
matahari yang lebih sering menampakkan diri daripada hujan, itu artinya kita
akan melupakan hujan dan keindahan senja dibalik turunnya hujan..”. beberapa
detik berlalu dan baru kusadari perkataan yang baru saja keluar dari bibirku
ini telah membuat dia bingung, tanpa kata-kata lagi aku meninggalkannya dengan
perasaan malu. “ian..what’s wrong with
you?”. Aku mengumpat dalam hati, menyayangkan kenapa aku bisa senekat itu
melakukan tindakan yang paling konyol di depan perempuan yang sama sekali aku
tak mengenalnya. Kunyalakan mesin motor dan pergi meninggalkan sejuta pertanyaan
di dalam benak perempuan itu. Maaf.
Comments
Post a Comment