Skip to main content

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 5 Final)

Part 5

-payung-

Setelah insiden ketiduran di angkot, aku mesti muter arah lagi untuk sampai kos-kosan. Selama di angkot, aku memutuskan untuk ga tergoda dengan lambaian angin dari kaca jendela walaupun akhirnya aku terlena kembali selama beberapa detik sampai nyaris terlewat dikit dari tempat yang seharusnya aku turun.

Mantep amat pulang dari kampus ke kos-kosan sampai 3 jam yang biasanya cuma 1 jam-an sama macet, gara-gara rumus epek nih..”. aku berjalan ke arah kos-kosan sambil ngeliatin jam di tangan.
Tiba di depan kos-kosan, Ibu kos udah nangkring jah depan kamarku. Sambil mikir-mikir ada apa gerangan, padahal uang bulanan kosan udah dibayar tepat waktu, ga pernah ngutang juga, apalagi bawa cewek ke kamar juga ga pernah.

“Apa gara-gara aku suka ngabisin air lebih banyak ya kalau mandi, atau ketauan aku pernah ambil jatah makanan anak kosan sebelah gitu ? lagian ga pernah diambil juga, sayang kalau ga dimakan kan buang rejeki..”. aku masih menerka-nerka apa yang bakal ditanya Ibu kos.
Saat sampai di depan kamarku, Ibu kos melihatku dan tersenyum ramah.

Baru pulang, tira ? pantas saja dari tadi Ibu ketok-ketok ga keluar, Ibu kira kamu ada di dalam karena Ibu liat motor kamu..”. Ibu kos menunjuk ke arah motorku yang terparkir di depan kamarku.
Iyah bu, motornya mogok tadi pagi jadi saya naik angkot..”. aku menjelaskan sambil membuka pintu kamarku untuk mempersilahkan Ibu kos masuk.
“Ibu ga lama-lama, Cuma mau mengambil payung yang waktu itu kamu pinjam soalnya mau Ibu bawa kerumah anak Ibu besok..”. Ibu menjelaskan maksudnya datang ke kamarku.
Oh iyah bu, maaf saya lupa terus mau kembaliin dari kemarin-kemarin ada di tas saya..”. aku langsung membuka tas di depan Ibu kos.
Begitu di buka, aku mencari-cari dimana payungnya di dalam tas. Aku bongkar semua isi tas, tapi tak kunjung kutemukan, wajahku yang awalnya tenang kini berubah agak sedikit panik. Ibu kos yang dari tadi menungguku sabar, mulai terlihat ga tenang karena melihat di tasku ga ada tanda-tanda payung. Aku kembali mengingat setelah tadi siang dari kampus, payung itu masih ada sampai aku naik angkot dan.. aha! Payungnya aku simpan di bawah kursi tempat aku duduk di angkot, kemudian insiden kebablasan terjadi lalu aku panik terburu-buru turun dari angkot dan aku lupa mengambil payung di bawah kursi.

“Maaf bu, payungnya sepertinya ketinggalan tadi siang..”. pelan-pelan aku menjelaskan kepada Ibu kos sambil garuk-garuk kepala.
“Kamu ini bisa-bisanya ko ketinggalan segala, ketinggalan dimana ? besok kamu bisa ambil kan, soalnya payung itu kesayangannya anak Ibu loh..”. kedua tangan Ibu kos sudah melipat di dada, yang artinya agak sedikit kesal namun masih ditahan.
“Anu.. anu bu.. maaf.. payungnya.. anu.. ketinggalan di angkot..”. aku menunduk ga berani liat ekspresi Ibu kos, sambil mengecilkan volume suaraku.
“Ya ampuuun.. tiraa!! Kenapa bisa ketinggalan di angkot ? Ibu ga mau tau apapun alasan kamu, payung itu harus udah ada besok jam 11 pagi.. kalau sampai payung itu ga ketemu, silahkan kamu angkat kaki dari kosan Ibu..”. suara ancaman Ibu kos mampu membuatku kencing di celana.
Setelah itu, Ibu kos keluar dari kamarku dengan membanting pintu kamar agak keras. Wajahku langsung pucat seperti mumi berjalan, siapa yang menyangka bahwa sebuah payung bisa membawaku ke tepi jurang.
“Haaah.. mesti cari kemana ini, pasti udah diambil orang juga.. ”. aku menghela nafas paling berat.
Kemungkinan untuk nemuin payungnya Ibu kos hanya 2% dan ga nemuinnya 98%, aku hanya duduk pasrah di lantai sambil membuka ransel untuk kumasukkan beberapa baju. Pasrah aku beres-beres kamar kosan biar besok aku bisa suruh orang untuk pindahkan semua barang-barangku ke kosan baru, setelah itu aku keluar kosan. Aku berjalan-jalan mencari tempat kosan yang baru, karena aku tau besok pasti aku ditendang dari kosan.
“Cari kemana lagi ya, udah ampir 2 jam keliling-keliling ga ketemu juga..”. aku mulai putus asa.
Kini langkah kakiku terasa berat saat kembali ke tempat kosan, rasanya begitu sangat lelah hari ini. Aku pun tertidur lelap sampai dimana pintu kamarku di gedor-gedor, aku terbangun kaget. Dari arah luar kamarku, banyak banget suara-suara memanggilku. Teringat soal payung Ibu kos yang ga sengaja kuhilangkan, rasa takut membuatku membeku ga bergerak. Semakin lama suara gedoran semakin keras, bahkan kaca kamarku ikut di gedor juga.
“Nyak.. babeh.. maafkan anakmu ini yang belum bisa membahagiakan kalian, lope yu pul..”. aku berdoa sejenak sebelum membuka pintu kamar.
Dengan ragu-ragu aku mendekati pintu kamar, tanganku begitu gemetaran untuk membuka kunci pintu. Setelah itu aku buka pintu, dan..
“Ya ampuuun.. tira.. kamu ga apa-apa ? Ibu kira kamu kenapa-kenapa dari tadi Ibu ketok-ketok ga ada suara, sampai-sampai Ibu minta tolong sama penghuni kosan lain untuk bantu buka pintu kamar kamu..”. Ibu kos langsung menyambutku dengan penuh kekawatiran setelah aku membuka pintu.
Aku yang tadinya ketakutan bakal dimarahin dan diusir dari kosan malah bingung dengan suasana di depan kamarku yang banyak orang berkumpul bersama Ibu kos, malah aku melihat ada Pak RT segala. Aku masih melongo diam karena ga tau apa yang terjadi, penghuni kosan yang disebelah kamarku langsung mengajakku untuk duduk dan aku disuruh minum teh hangat. Ibu kos ikut duduk disebelahku, wajahnya yang masih kawatir melihatku.
“Kamu ga ada masalah apa-apa kan, tira ? ga lagi ribut sama orang tua kamu atau pacar kamu atau teman-teman kamu ?”. Ibu kos berusaha menanyakanku dengan pelan-pelan.
Aku ga menjawab, hanya menggelengkan kepala. Ibu kos terlihat agak lega setelah mengetahui aku ga ada masalah apa-apa.
“Syukurlah Ibu hanya kawatir, tadi Ibu hanya bermaksud membangunkanmu untuk makan tapi Ibu ketok-ketok pintu kamar kamu ga ada jawaban.. Ibu intip dari balik jendela kamar, kamu terlentang di lantai.. Ibu panik, takutnya kamu kenapa-kenapa makanya Ibu langsung minta tolong sama penghuni kosan juga panggil Pak RT untuk mendobrak kamar kamu..”. Ibu kos menghela nafas dengan lega.
Setelah mendengar penjelasan Ibu kos, barulah aku mengerti kenapa banyak orang di depan kamarku dan insiden gedor pintu kamar. Teringat soal payung Ibu kos, aku langsung buru-buru minta maaf.
“Bu.. saya minta maaf soal payung yang waktu itu saya pinjam ke Ibu, saya benar-benar ga sengaja menghilangkannya waktu di angkot kemarin.. tolong jangan usir saya dari kosan Ibu, saya ga tau mesti cari dimana kosan baru..” aku memohon-mohon sama Ibu kos sambil memegang tangannya agar aku ga diusir.
“Payung ? Oh.. maksud kamu payung yang waktu itu Ibu pinjamkan, ya ga apa-apa hilang juga lha memang itu payung sudah agak rusak jadi ga masalah..”. Ibu kos menjelaskan dengan santai.
Aku yang melihat reaksi Ibu kos masih setengah ga percaya, padahal jelas kemarin sore Ibu kos marah-marah sambil mengancam akan mengusirku dari kosan kalau aku ga nemuin payungnya. Ga lama ada pesan masuk dari Yosua.
Bro, lu hari ini knapa g msuk kelas ? bnyak tgas, bsok lu msuk g ?
“Hari ini ? sekarang hari apa emangnya, bukannya tadi pagi ketemu sama tu anak kenapa pake acara sms segala nanya-nanya lagi ?”. masih dengan penasaran, aku sambil lihat tanggal di layar hp.
Pantesan, ternyata yang aku alamin seharian ini.. cuma MIMPI !! haha.. speechless..


The End

Comments

  1. Menyesal gw baca dari awal klo akhirnya gini Ha Ha Ha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe.. kan emang sengaja endingnya digituin, endingnya itu untuk apesnya dia jah.. bukan untuk ceritanya ko..

      tunggu jah serial lanjutannya ya.. :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Understand - Matahari yang tak pernah kembali bersinar

19 Juli 2017, 11.20 am Taman Kota Tua samping Spiegel Bar & Resto, Semarang “Kenapa sih diantara tahun-tahun yang sudah terlewat, kamu mesti memilih tahun ini untuk kesini lagi ? 8 tahun bukan waktu yang singkat, Ga..”.  Aku memulai percakapan setelah hampir kurang lebih 20 menit kita berdiam diri di taman kota tua. “Entahlah.. Aku hanya rindu tempat ini, Van..”.  Pandangannya tetap lurus ke sepanjang jalan kota tua tanpa melihatku. “Rindu Lea juga ?”.  Aku berkata pelan sambil melihat ekspresinya. Ekspresinya ga berubah, terlihat datar dan dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengambil IPodnya lalu memasang Playlistnya, karena hari ini termasuk hari sekolah jadi hanya ada beberapa yang duduk di taman ini termasuk kita.  Send your dreams were nobody hides Give your tears to the tides No time No time “Apa kabarnya ya dia sekarang, Ga ? Terakhir kudengar dari Seila, dia masih kuliah semester akhir”.  Aku kembali membuk...