Skip to main content

Understand

Part 2

Kenangan Pertama


“I think it is all a matter of love;
 the more you love a memory, the stronger and stranger it becomes” 
― Vladimir Nabokov


July, 2010

Bel sekolah berbunyi menandakan waktunya istirahat, aku menutup buku pelajaran setelah guru keluar kelas. Teman-temanku menghampiriku untuk mengajak ke kantin, aku mengiyakan dan berjalan mengikuti mereka keluar kelas. 

"Mau makan apa nih kita ntar ? Kemarin soalnya menunya sama, bosen aku nya nih". Seila minta pendapat sambil jalan.

Aku mengangkat kedua bahuku, belum ada ide untuk makan apa.

"Belum tau juga, Sei. Kalau menunya sama seperti kemarin sih aku beli minum jah deh, kamu gimana Ann ?". 

"Aku laper sih sebenarnya, Le. Tapi masa iya aku makan ndiri, kalian ga ikutan makan nemenin aku to ?". Anna ikut berkomentar.

"Aku ga ikutan yaaa..!". Teriak Lea dan Seila.

Hampir bersamaan aku dan Seila menjawabnya. Anna yang mendengarnya ikut tertawa juga sambil geleng-geleng kepala.

Setelah itu, aku dan Seila cari tempat untuk duduk sambil menunggu Anna yang sedang memesan makanan. Dari kejauhan aku melihat beberapa orang berada di depan ruang kepala sekolah, mereka sedang berbicara dengan para guru lainnya.

"Sei, kok banyak orang di depan ruangan kepsek. Ada apaan ya ?". 

Aku menunjuk ke arah ruangan kepala sekolah, Seila ikut menoleh juga.

"Ndak tau aku juga Le, kayaknya mau ada rapat trus nyuruh kita pulang cepet deh". Seila jawab ngasal.

"Itu sih pengennya kamu jah, Sei.. hehe..". Lea tertawa mendengar jawaban Seila.

Ga lama, Anna pun datang sambil bawa pesenan minuman aku sama Seila. Dengan wajah kesalnya, dia menaruh minuman kami agak keras ke meja, aku dan Seila langsung kaget menatap ke arah Anna.

"Kamu kenapa, Ann ?". Lea bertanya pelan ke Anna.

"Aku tuh dari tadi manggil kalian, sampe anak-anak lain pada ngeliatin aku tuh lagi ngapain sih! Kalian malah asik-asik ketawa, emangnya gampang bawa minuman sama makanan pake dua tangan ?". Anna mengomel sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Masa sih, Ann ? Kok aku ga denger apa-apa dari tadi, mungkin sih emang ga kedengeran kan di kantin lagi banyak orang juga ya kan Lea ?". Sambil berusaha nahan ketawa, Seila mencoba untuk menutup wajahnya dibalik bahu Lea agar tak terlihat oleh Anna.

"Masa iyoo nda ada yang denger aku teriak to, lha kamu Lea ga denger juga ?". Anna balik bertanya pada Lea.

"Hmm.. iya nih, Ann.. Aku juga ga denger kamu teriak-teriak panggil kita tadi". Lea masih berwajah tenang, namun Seila masih bersembunyi di balik bahu Lea. 

"Yo wes lah, uda disini juga aku. Tak makan jah nih, sebelum lapernya ngilang lagi gara-gara kalian". Anna masih juga mengomel sambil makan.

Seila rupanya ga tahan untuk ga ketawa, aku menyuruhnya untuk jauh-jauh dari Anna karena aku ga tega liatnya kalau Anna sampai tau kita berdua sedang mengerjainya. Seila pura-pura bilang ke aku dan Anna mau ke Ibu Kantin, beli cemilan karena mulai merasa sedikit lapar.

Sambil memunggu Anna selesai makan, aku kembali melirik ke arah ruangan kepsek. sepertinya sudah ga ada siapa-siapa, hanya beberapa guru yang masih mengobrol entah dengan siapa mungkin dengan alumni. Karena beberapa minggu lagi akan ada event buat rayain ulang tahun sekolah, jadi besar kemungkinan mereka adalah para alumni yang diminta bantuan sama sekolah untuk bantu-bantu.

Lama menunggu, Seila tak kunjung kembali. Aku memutuskan untuk menyusulnya dengan sedikit omelan dari Anna yang bilang untuk ga lama-lama dan kujawab sambil tersenyum ke arahnya. Entah salah siapa, ketika aku beranjak dari tempat aku duduk. Aku ga melihat ke depan, jadinya begitu aku balik badan langsung menabrak bahu seseorang yang tampak sedang buru-buru. Kertas yang dia pegang juga langsung ikut terjatuh dan berhamburan dimana-mana, sontak aku ikut mengambil lembaran kertas yang terjatuh tanpa lebih dulu melihatnya. Beberapa penghuni meja yang ada di dekatku ikut melihat kejadian tabrakan dan sibuk berbicara satu sama lain tentang seseorang yang aku tabrak.

"Hmm.. Maaf ya, aku ga sengaja tadi ga liat..". Lea masih sibuk mengumpulkan lembaran kertas yang berhamburan sambil meminta maaf kepada seseorang itu.

Setelah terkumpul dan memberikan lembaran kertas yang terjatuh padanya, aku baru melihat wajahnya dari dekat. Aku mengamatinya secara ga langsung dari cara dia membereskan semua kertasnya hingga rapih kembali.

"Terima kasih..". 

Seseorang yang berdiri di hadapanku sekarang tersenyum ke arahku setelah mengucapkan terima kasih padaku lalu pergi, dengan logat yang terbilang masih kaku untuk bicara bahasa indonesia jadi terdengar agak sedikit aneh di telingaku. Aku hanya menatap kedua bahunya dari belakang sampai dia keluar dari gerbang sekolah. Itulah yang kuingat tentangnya di hari pertama aku melihatnya.


Comments

Popular posts from this blog

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 5 Final)

Part 5 -payung- Setelah insiden ketiduran di angkot, aku mesti muter arah lagi untuk sampai kos-kosan. Selama di angkot, aku memutuskan untuk ga tergoda dengan lambaian angin dari kaca jendela walaupun akhirnya aku terlena kembali selama beberapa detik sampai nyaris terlewat dikit dari tempat yang seharusnya aku turun. “ Mantep amat pulang dari kampus ke kos-kosan sampai 3 jam yang biasanya cuma 1 jam-an sama macet, gara-gara rumus epek nih..”. aku berjalan ke arah kos-kosan sambil ngeliatin jam di tangan. Tiba di depan kos-kosan, Ibu kos udah nangkring jah depan kamarku. Sambil mikir-mikir ada apa gerangan, padahal uang bulanan kosan udah dibayar tepat waktu, ga pernah ngutang juga, apalagi bawa cewek ke kamar juga ga pernah. “Apa gara-gara aku suka ngabisin air lebih banyak ya kalau mandi, atau ketauan aku pernah ambil jatah makanan anak kosan sebelah gitu ? lagian ga pernah diambil juga, sayang kalau ga dimakan kan buang rejeki..”. aku masih menerka-ner...

Understand - Matahari yang tak pernah kembali bersinar

19 Juli 2017, 11.20 am Taman Kota Tua samping Spiegel Bar & Resto, Semarang “Kenapa sih diantara tahun-tahun yang sudah terlewat, kamu mesti memilih tahun ini untuk kesini lagi ? 8 tahun bukan waktu yang singkat, Ga..”.  Aku memulai percakapan setelah hampir kurang lebih 20 menit kita berdiam diri di taman kota tua. “Entahlah.. Aku hanya rindu tempat ini, Van..”.  Pandangannya tetap lurus ke sepanjang jalan kota tua tanpa melihatku. “Rindu Lea juga ?”.  Aku berkata pelan sambil melihat ekspresinya. Ekspresinya ga berubah, terlihat datar dan dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengambil IPodnya lalu memasang Playlistnya, karena hari ini termasuk hari sekolah jadi hanya ada beberapa yang duduk di taman ini termasuk kita.  Send your dreams were nobody hides Give your tears to the tides No time No time “Apa kabarnya ya dia sekarang, Ga ? Terakhir kudengar dari Seila, dia masih kuliah semester akhir”.  Aku kembali membuk...