Skip to main content

Understand - Senyum yang memudar seperti hembusan angin

18 Januari 2011
Blue Lotus Coffee House, Semarang

Suasana Cafe hari ini tidak terlalu ramai, karena masih di jam sekolah. Kebetulan karena hari ini kerjaan di kantor tidak begitu banyak jadi bisa minta ijin untuk keluar sebentar, tak biasanya Lea minta bertemu di jam sekolah, dan isi pesannya sangat singkat.

Text Message
Monday 19:47

Bisa ketemu besok siang jam 11 di Blue Lotus Cofffe House sebelah sekolahku ? 

Lea

Aku melihat jam tanganku, masih ada waktu 10 menit lagi sebelum ke jam 11. Aku melihat ke arah sekeliling, belum ada tanda-tanda Lea akan datang. Banyak sekali pertanyaan yang terbenak di pikiranku, kulirik kembali jam di tanganku. Pintu masuk Cafe terbuka, ada seseorang yang datang. 

Hmm.. bukan Lea..

Aku mengalihkan pandanganku sambil melihat menu yang ada di Cafe, tak menyadari sampai seseorang ada di depanku. 

“Ardi.. ?”. 

Aku melihat ke arahnya setelah dia memanggil namaku, seorang pemuda yang kira-kira masih sekitar 22-23 tahun dibawahku. Aku mengangguk, dia lalu memperkenalkan dirinya. 

“Saya Kevin, Kakaknya Lea. Saya yang kirim pesan untuk minta ketemu hari ini lewat HP nya Lea semalam”. 

Sontak aku berdiri juga dan bersalaman dengannya, tak kusangka akan bertemu dengan kakaknya Lea disini. 

“Saya Ardiga, salam kenal..”. Aku mempersilahkan dia untuk duduk duluan, dan berlanjut aku duduk juga dengan perasaan yang bercampur.

Kevin melihat menu dan memesan espresso, dan aku memesan cappucino. Sambil menunggu pesanan datang, kami terdiam beberapa saat. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan kakaknya, dia melihatku dengan tatapan yang membuatku merasa tak nyaman. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sampai pesanan datang. 

“Kopi kalau terlalu lama di diamkan rasanya akan berubah tak sama lagi”. Dia membuka pembicaraan setelah memperhatikanku tak menyentuh sama sekali kopi yang datang selama beberapa menit berlalu.

“Maaf, ini jadi kebiasaan saya. Ada seseorang yang pernah memberitahu saya untuk tidak meminumnya langsung, saya harus menunggu sebentar sampai aroma kopinya hilang lalu saya bisa meminumnya”. Saya menjelaskan padanya sambil memegang pegangan cangkirnya namun tak juga kuminum.

“Sepertinya seseorang itu bukan penikmat kopi”. Dia menatapku dengan pandangan yang bingung.

“Dia memang bukan penikmat kopi, dia hanya penikmat strawberry yoghurt smoothie”. Jawabku sambil tersenyum.

Setelah aku menjawab, dia berhenti meminum kopinya. Sepertinya dia tahu siapa seseorang yang aku maksud, dia menaruh kembali cangkirnya lalu dia menatapku.

“Saya datang kesini untuk bertemu dengan kamu, karena saya ingin membahas soal Lea.”. Dia langsung mengatakan poinnya tanpa basa basi.

Aku terdiam, menunggu dia melanjutkan pembicaraan.

“Saya tidak memaksa dengan siapa Lea berhubungan, dengan siapa dia dekat. Bahkan di rumah pun, orang tua kami tak pernah ikut campur urusan kami. Saya mengerti perasaan kamu, tapi kamu harus mengerti perasaan saya sebagai kakaknya. Dia baru 17 tahun, masa-masa dia lagi labilnya dan masih terlalu jauh untuk mengerti semua tentang dunia kamu sekarang. Jangan paksa dia untuk menjadi dewasa sebelum waktunya, biarkan dia menikmati masa-masa sebelum masuk ke dunia yang sama dengan dunia kamu yang sekarang. Kalau kamu memang sayang dengan adik saya, kamu harus biarkan dia menikmati dunianya yang sekarang dia jalanin.”. 

Aku terdiam setelah mendengar penjelasannya, aku harus mengakui apa yang dia sampaikan tadi hampir semuanya benar. Selama berhubungan dengan Lea, tak sedikit perubahan yang aku berikan padanya tentang duniaku. Aku hampir tak memikirkan dampak setelahnya pada Lea, aku baru menyadari Lea memang masih di usia yang jauh dari kata dewasa. 6 bulan berpacaran, Lea selalu mencoba bersikap dewasa untukku. Umur kami yang terpaut beda 8 tahun, membuatku berpikir kembali apa yang kulakukan ini sudah benar atau belum.

“Saya harap kamu mengerti apa yang saya maksud, terima kasih buat waktunya.”. Dia beranjak berdiri dan pamit karena dia masih ada kelas sorenya, aku pun ikut berdiri melihat belakang punggungnya sampai menghilang dari balik pintu. 

Aku terduduk kembali, menatap secangkir kopi yang kini sudah dingin. 

Dan pada akhirnya aku diharuskan untuk memberikan keputusan yang sangat sulit, keputusan yang tak kumengerti untuk kebaikan semuanya atau untuk kebodohanku.


Bertahan.. atau melepaskan..

Comments

Popular posts from this blog

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 5 Final)

Part 5 -payung- Setelah insiden ketiduran di angkot, aku mesti muter arah lagi untuk sampai kos-kosan. Selama di angkot, aku memutuskan untuk ga tergoda dengan lambaian angin dari kaca jendela walaupun akhirnya aku terlena kembali selama beberapa detik sampai nyaris terlewat dikit dari tempat yang seharusnya aku turun. “ Mantep amat pulang dari kampus ke kos-kosan sampai 3 jam yang biasanya cuma 1 jam-an sama macet, gara-gara rumus epek nih..”. aku berjalan ke arah kos-kosan sambil ngeliatin jam di tangan. Tiba di depan kos-kosan, Ibu kos udah nangkring jah depan kamarku. Sambil mikir-mikir ada apa gerangan, padahal uang bulanan kosan udah dibayar tepat waktu, ga pernah ngutang juga, apalagi bawa cewek ke kamar juga ga pernah. “Apa gara-gara aku suka ngabisin air lebih banyak ya kalau mandi, atau ketauan aku pernah ambil jatah makanan anak kosan sebelah gitu ? lagian ga pernah diambil juga, sayang kalau ga dimakan kan buang rejeki..”. aku masih menerka-ner...

Understand - Matahari yang tak pernah kembali bersinar

19 Juli 2017, 11.20 am Taman Kota Tua samping Spiegel Bar & Resto, Semarang “Kenapa sih diantara tahun-tahun yang sudah terlewat, kamu mesti memilih tahun ini untuk kesini lagi ? 8 tahun bukan waktu yang singkat, Ga..”.  Aku memulai percakapan setelah hampir kurang lebih 20 menit kita berdiam diri di taman kota tua. “Entahlah.. Aku hanya rindu tempat ini, Van..”.  Pandangannya tetap lurus ke sepanjang jalan kota tua tanpa melihatku. “Rindu Lea juga ?”.  Aku berkata pelan sambil melihat ekspresinya. Ekspresinya ga berubah, terlihat datar dan dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengambil IPodnya lalu memasang Playlistnya, karena hari ini termasuk hari sekolah jadi hanya ada beberapa yang duduk di taman ini termasuk kita.  Send your dreams were nobody hides Give your tears to the tides No time No time “Apa kabarnya ya dia sekarang, Ga ? Terakhir kudengar dari Seila, dia masih kuliah semester akhir”.  Aku kembali membuk...