Skip to main content

Understand - Gerimis dalam Hampa


29 September 2018 18.43 pm
Jl. Musi Raya, Semarang

When it feels like surgery
And it burns like third degree
And you wonder what is it worth ?
When your inside’s breaking in
And you feel that ache again
And you wonder what’s giving birth ?

Samar-samar terdengar suara musik yang terdengar dari balik pintu kamar Lea, kubuka pintu kamarnya tanpa menimbulkan suara. 

If you could let the pain of the past go of your soul
None of this is in your control

Kulihat Lea sedang duduk di depan meja kerjanya membelakangiku, entah apa yang sedang dia lakukan. Tak ada gerakan tangan ketika mengetik di depan laptopnya, bahunya tak ikut bergerak juga. Diam, dan hening. 

If you could only let your guard down
If you could learn to trust me somehow
Well I swear, that I won’t let you go

Aku berjalan ke arahnya, dia masih tak menyadari kehadiranku di belakangnya. Aku mulai penasaran dengan apa yang dia lakukan, semakin mendekat aku bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dia lihat di depan laptopnya. 

If you could only let go your doubts
If you could just believe in me now
I swear, that I won’t let you go
I won’t let you go

Hanya ada satu baris kalimat singkat dalam email yang Lea terima dan baca di laptopnya, aku menghela nafas setelah mengetahui alamat pengirimnya. Tanganku perlahan memegang bahunya, dia menoleh ke arahku dengan wajah yang sulit kubaca apa yang ada di dalam pikirannya. 

From : pradigaardi@gmail.com
To : leandanura19@gmail.com
Subject : 

Hujan itu kamu, aku rindu.

Bisa kulihat tangannya begitu gemetar ketika dia ingin menutup laptopnya, aku melangkah mundur keluar kamarnya. membiarkan dia sendiri lebih baik untuk sementara. Sekilas kulihat dia menelungkup mukanya di meja dengan kedua tangannya sebelum akhirnya aku menutup pintunya. 

When your fear is currency
And you feel that urgency
You won’t peace but there’s war in your head
Maybe that’s where life is born
When our facades are torn
Pain gives birth to the promise ahead, yeah

Kini yang terdengar bukan hanya suara musik dari kamar Lea, tapi suara isak tangis yang ikut menyatu bersama di dalamnya. Aku hanya berdiri mematung di depan pintu kamarnya tanpa bisa berbuat apa-apa untuknya.

If you could let the pain of the past go of your soul
None of this is in your control

If you could only let your guard down
If you could learn to trust me somehow
Well I swear, that I won’t let you go
If you could only let go your doubts
If you could just believe in me now
I swear, that I won’t let you go

I won’t let you go, yeah
I’ll always be by your side, yeah

If you could only let go your doubts
If you could just believe in me now
I swear, that I won’t let you go
I won’t let you go

I won’t let you go
I won’t let you go
I won’t let you go

There ain’t no darkness strong enough that could tear you out from my heart
There ain’t no strength that’s strong enough that could tear this love apart
Yeah, there ain’t no darkness strong enough that could tear you out from my heart
Yeah, there ain’t no strength that’s strong enough that could tear this love apart
Never gonna let you go
Never gonna let you go
No, I won’t let you go

Comments

Popular posts from this blog

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 5 Final)

Part 5 -payung- Setelah insiden ketiduran di angkot, aku mesti muter arah lagi untuk sampai kos-kosan. Selama di angkot, aku memutuskan untuk ga tergoda dengan lambaian angin dari kaca jendela walaupun akhirnya aku terlena kembali selama beberapa detik sampai nyaris terlewat dikit dari tempat yang seharusnya aku turun. “ Mantep amat pulang dari kampus ke kos-kosan sampai 3 jam yang biasanya cuma 1 jam-an sama macet, gara-gara rumus epek nih..”. aku berjalan ke arah kos-kosan sambil ngeliatin jam di tangan. Tiba di depan kos-kosan, Ibu kos udah nangkring jah depan kamarku. Sambil mikir-mikir ada apa gerangan, padahal uang bulanan kosan udah dibayar tepat waktu, ga pernah ngutang juga, apalagi bawa cewek ke kamar juga ga pernah. “Apa gara-gara aku suka ngabisin air lebih banyak ya kalau mandi, atau ketauan aku pernah ambil jatah makanan anak kosan sebelah gitu ? lagian ga pernah diambil juga, sayang kalau ga dimakan kan buang rejeki..”. aku masih menerka-ner...

Understand - Matahari yang tak pernah kembali bersinar

19 Juli 2017, 11.20 am Taman Kota Tua samping Spiegel Bar & Resto, Semarang “Kenapa sih diantara tahun-tahun yang sudah terlewat, kamu mesti memilih tahun ini untuk kesini lagi ? 8 tahun bukan waktu yang singkat, Ga..”.  Aku memulai percakapan setelah hampir kurang lebih 20 menit kita berdiam diri di taman kota tua. “Entahlah.. Aku hanya rindu tempat ini, Van..”.  Pandangannya tetap lurus ke sepanjang jalan kota tua tanpa melihatku. “Rindu Lea juga ?”.  Aku berkata pelan sambil melihat ekspresinya. Ekspresinya ga berubah, terlihat datar dan dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengambil IPodnya lalu memasang Playlistnya, karena hari ini termasuk hari sekolah jadi hanya ada beberapa yang duduk di taman ini termasuk kita.  Send your dreams were nobody hides Give your tears to the tides No time No time “Apa kabarnya ya dia sekarang, Ga ? Terakhir kudengar dari Seila, dia masih kuliah semester akhir”.  Aku kembali membuk...