Skip to main content

understand

Part 3

Dilemma


"you can keep pondering on which thing to do first or which part to take
or by simple taking action now of most any kind,
you may just find yourself on the way to where you most needed to go". - April Bryan


February, 2016

Keesokan harinya, sms dari Evan masih belum juga aku balas. Ada rasa untuk ga perduli, tapi pandangan mataku teteap saja melihat ke arah ponsel.

Seharian di kampus berusaha untuk tetap fokus ke mata kuliah yang aku ambil, namun ga ada satupun yang bisa aku ingat materinya sama sekali. Rasanya begitu malas dan agak sedikit sensitif setiap ada pesan yang masuk ke hp langsung kulihat, lalu kubiarkan tergeletak begitu saja di meja setelah kubaca tanpa ada niat buat di balas.

Salah satu teman dekatku, Fenesia ternyata menyadari tentang sikapku yang agak aneh hari ini.

"kamu itu nunggu sms dari siapa sih, Le ? dari tadi aku perhatiin kamu seharian ini liatin hp mulu, tiap ada sms yang masuk langsung buru-buru di cek ga biasanya kamu kayak gini deh..". 

Aku hanya menggeleng kepala, sambil terus melihat ke arah hp di meja.

"ga nunggu siapa-siapa, Fe..".

Fenesia hanya menghela nafas sambil terus melihatku, aku tau dia ga akan begitu saja percaya apa yang aku bilang.

"anggap aku percaya sama apa yang kamu bilang barusan, Le.. ".

Karena aku ga ingin terus-terusan berada di dekat dengan Fenesia, aku mengambil tas keluar kelas dengan alasan ingin segera pulang cepat. Fenesia membiarkan aku pulang sendirian, karena dia tau untuk saat ini aku memang butuh waktu untuk sendiri. Aku berjalan cepat ke arah parkiran, panggilan teman-teman yang memanggilku dari arah lorong pun tak kuperdulikan. Aku terus saja berjalan, sampai akhirnya tiba di parkiran.

Suasana siang hari ini ga begitu panas seperti hari-hari biasanya, hari ini terkesan mendung karena matahari sedang asik bersembunyi dibalik awan. Aku memasang musik lewat earphone untuk kuperdengarkan di jalan, mendengarkan musik memang salah satu obat untuk menenangkan hati.

Jalan terlihat lengang, mungkin karena sudah lewat waktu jam makan siang. Entah apa yang aku pikirkan, aku memutar jalan melewati MT. Haryono yang justru lebih jauh ke arah rumahku. Lampu merah membuatku tersadar seketika saat aku melihat sekelilingku, tampak beberapa meter ke arah depan bisa terlihat sekolahku dulu. Masih dengan rasa bingung kenapa aku bisa sampai di jalan ini, playlist yang selalu kuputar tiba-tiba mengalun sebuah lagu lama yang seharusnya ga ada di playlist.

We rest as one soul
Just one last night here
Remembering what we gave up 
This golden love

Our Path have crossed 
But it's the last time i'll have you
When we're old, we'll look on
This golden love

Midnight Youth - Golden Love

Beberapa saat pikiranku kosong, lampu merah yang tergantikan oleh lampu hijau tak lagi kuhiraukan. Mendadak seperti hilang arah kemana aku akan pergi, bunyi-bunyi klakson dibelakang motorku tak mau berhenti. Dengan rasa gugup dan panik aku mengendarai motor, ketika di belokan aku kehilangan keseimbangan lalu terjatuh pelan. Ada beberapa pengendara motor yang ikut berhenti untuk membantuku, juga para pejalan kaki yang tak jauh dari tempatku. Aku menolak mereka membantuku, aku langsung menjalankan motorku dan pergi dari sana.

Bukan rumah yang aku tuju, tapi tempat yang dulu pernah aku datangi semenjak duduk di bangku sekolah. Di tempat inilah semua cerita dan kenangan bercampur, menjadikannya sebagai tempat untuk sendiri. Banyak yang berubah, namun ada satu kursi yang masih ada disana dan masih sama tak berubah selama kurang lebih 5 tahun yang lalu ketika aku hampir melupakan tempat ini karena kesibukan pertama saat kuliah dimulai.

Lama sekali aku duduk disana, menikmati ombak laut yang menghempas ke batu-batu dengan alunan pelan hingga keras. Aku begitu menikmatinya hingga tak menyadari kehadiran seseorang dan duduk disebelahku, rupanya Fenesia. Aku hanya menoleh sebentar melihatnya, lalu melanjutkan melihat ke arah ombak lagi.

"Mau sampai kapan kamu disini ?".

Fenesia membuka percakapan setelah hampir 10 menit kami berdiam diri satu sama lain.

"Ga tau..". 

Aku ga lihat ke arah Fenesia, mataku masih terus saja melihat ke arah ombak pantai.

"Seenggaknya kamu kabarin orang rumah kalau kamu mau pulang telat, Le..". 

Fenesia mengikuti arah kedua mataku yang melihat ombak.

"Aku lupa..". 

Fenesia yang mendengar jawaban singkatku langsung berbalik badannya dan terlihat emosi.

"Lupa itu bukan alasan kamu ngilang ga ada kabar, Lea ! Seharusnya kamu kabarin mereka, kamu ga tau gimana paniknya mereka begitu tau kamu belum juga balik dari kampus dan ga bales semua pesan juga panggilan telepon dari mereka !". 

Aku menghela nafas berat, lalu memandang ke arah Fenesia. Aku bisa melihat wajahnya yang terlihat begitu kawatir terhadapku, tanpa terasa emosi yang kutahan seharian ini berangsur keluar lewat tetesan air mata.

"Sorry.. Aku ga tau mesti jelasin apa sama kamu, aku cuma ngerasa cape dikejar-kejar masa lalu yang seharusnya udah ga muncul lagi di depanku. Rasanya ingin lari menghindari semuanya, tapi ga tau kenapa bayang-bayangnya ga bisa hilang gitu saja". 

Fenesia langsung memegang erat kedua tanganku, setelah dia menyadari suaraku yang keluar bercampur dengan tangisan.

"Kehadiran dia itu bukan untuk kamu hindari, Le. Kamu ga salah apa-apa, buat apa kamu lari ? Selama ini kalian ga pernah punya kesempatan buat ketemu langsung dan selesaikan masalah yang cuma kalian yang tau, kalian sama-sama saling menghindar dan menghilang begitu saja. Karena itulah kalian sama-sama stuck di cerita dan masa lalu yang sama selama 7 tahun, Lea..". 

Kini air mataku makin terus keluar setelah apa yang Fenesia bilang itu hampir semuanya benar, Aku berusaha untuk ga terus-terusan ngeluarin air mata, namun apa daya usaha itu gagal dan isak tangisku makin keras.

"Aku pengen ngelupain semuanya, Fe.. Aku ga ngerti kenapa sampe detik ini selalu gagal buat lupain dia yang seenaknya datang dan pergi gitu saja dari hidup aku, salah aku tuh apa sih Fe sampai aku harus ngerasain ini ?". 

Fenesia langsung memelukku erat ketika tangisanku semakin tak bisa kubendung lagi, beberapa orang melihat kami namun aku ga perduli. Untuk kesekian kalinya aku menangis lagi karena seseorang yang sama selama 7 tahun ini, entah sampai kapan.

"Kamu ga bakal bisa lupain dia sebelum kamu ketemu sama dia, Lea. Aku yakin masih ada hal-hal yang ingin kamu sampaikan buat dia dan dia juga begitu, tapi kalian terus menyimpannya. Karena itu kalian sulit buat hapus semuanya dari pikiran kalian". 

Aku terdiam lama, isak tangisku masih belum juga berhenti.

"Aku ga tau, Fe..".

Fenesia melepaskan pelukannya dariku.

"Ikuti saran aku sekali saja, Lea.. Ketemu sama dia, bilang semuanya yang ingin kamu bilang setelah itu kalian bisa memutuskan apa yang terbaik untuk kalian". 

Aku ga menjawab saran dari Fenesia, aku membalikkan badanku ke arah ombak lagi. Sepasang Earphone yang masih memutar lagu dari playlist terlepas begitu saja dan jatuh di sebelahku, terdengar sebuah lagu yang tak sengaja aku memutarnya berulang-ulang kali.

Oh, we were destined
Oh, underdone
Oh, would you meet me on Thursday
For golden love

I'll give if you give
Don't forget, this is it
One chance to do us justice
This golden love

Midnight Youth - Golden Love



Comments

Popular posts from this blog

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 5 Final)

Part 5 -payung- Setelah insiden ketiduran di angkot, aku mesti muter arah lagi untuk sampai kos-kosan. Selama di angkot, aku memutuskan untuk ga tergoda dengan lambaian angin dari kaca jendela walaupun akhirnya aku terlena kembali selama beberapa detik sampai nyaris terlewat dikit dari tempat yang seharusnya aku turun. “ Mantep amat pulang dari kampus ke kos-kosan sampai 3 jam yang biasanya cuma 1 jam-an sama macet, gara-gara rumus epek nih..”. aku berjalan ke arah kos-kosan sambil ngeliatin jam di tangan. Tiba di depan kos-kosan, Ibu kos udah nangkring jah depan kamarku. Sambil mikir-mikir ada apa gerangan, padahal uang bulanan kosan udah dibayar tepat waktu, ga pernah ngutang juga, apalagi bawa cewek ke kamar juga ga pernah. “Apa gara-gara aku suka ngabisin air lebih banyak ya kalau mandi, atau ketauan aku pernah ambil jatah makanan anak kosan sebelah gitu ? lagian ga pernah diambil juga, sayang kalau ga dimakan kan buang rejeki..”. aku masih menerka-ner...

Understand - Matahari yang tak pernah kembali bersinar

19 Juli 2017, 11.20 am Taman Kota Tua samping Spiegel Bar & Resto, Semarang “Kenapa sih diantara tahun-tahun yang sudah terlewat, kamu mesti memilih tahun ini untuk kesini lagi ? 8 tahun bukan waktu yang singkat, Ga..”.  Aku memulai percakapan setelah hampir kurang lebih 20 menit kita berdiam diri di taman kota tua. “Entahlah.. Aku hanya rindu tempat ini, Van..”.  Pandangannya tetap lurus ke sepanjang jalan kota tua tanpa melihatku. “Rindu Lea juga ?”.  Aku berkata pelan sambil melihat ekspresinya. Ekspresinya ga berubah, terlihat datar dan dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengambil IPodnya lalu memasang Playlistnya, karena hari ini termasuk hari sekolah jadi hanya ada beberapa yang duduk di taman ini termasuk kita.  Send your dreams were nobody hides Give your tears to the tides No time No time “Apa kabarnya ya dia sekarang, Ga ? Terakhir kudengar dari Seila, dia masih kuliah semester akhir”.  Aku kembali membuk...