Skip to main content

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 3)

Part 3

-Kamu Lagi-

Keesokan paginya, aku bersiap-siap untuk pergi ke kampus karena ada kelas pagi. Ketika akan memanaskan motor, motor ga mau menyala. Aku coba selah beberapa kali tapi tetap ga mau menyala, kulirik jam di tanganku sudah hampir telat.

“duh.. kenapa lagi ini motor mesti ngadat ketika dibutuhkan, nyala dong tor.. jangan bikin aku tambah merana gini karena mesti naik angkot..”. aku mandi keringat di pagi hari hanya untuk selah motor yang belum juga mau menyala.
Jam terus berputar, hampir 20 menit aku mencoba menyalakan motor. Kulirik kembali jam di tanganku, sambil menghela nafas aku menyerah dan mengambil tas untuk segera bergegas berlari mencari angkot. Jalanan di pagi hari memang buat penghuni angkot terlihat stres seperti aku salah satunya, gimana ga stres baru juga aku dapat angkot dan belum jauh dari tempat dimana aku naik ini angkot udah main ngetem jah. Berulang kali aku liat jam yang setiap saat terus berjalan mendekati ke arah jam 8, sebentar lagi dosen bakal masuk kelas.

“yah.. ini mah say goodbye jah, ga bakalan keburu juga..”. aku tersenyum pasrah.
Jam 8 tepat angkot kembali jalan setelah memastikan ga ada lagi penumpang yang akan naik di sekitaran, angkot terus bergerak namun ga begitu cepat karena memang masih ada macet di beberapa titik jalan pajajaran. Jam terus saja bergulir hingga menunjukkan waktu 08.26, aku turun di sekitaran Jl.Aceh dan kemudian ngelanjutin naik angkot rute Abdul Muis-Cicaheum ke arah kampus di Jl.PHH. Mustafa. Ketika angkot berjalan melewati Jl.Taman Pramuka, dari kejauhan terlihat segerombolan anak sekolahan yang kulihat dari logo sekolahnya adalah logo dari SMAN 3 ketika mereka masuk ke dalam angkot. Aku ga terlalu memperhatikan dengan seksama wajah-wajah mereka hanya menghitung mereka sekitaran 5 orang, aku bergeser ke belakang supir angkot karena aku malas berdekatan dengan anak sekolahan yang didominasikan cewek-cewek yang otomatis selalu cerewet dan bikin ribut.

Dan benar saja, gerombolan anak sekolahan itu langsung ribut-ribut ga jelas di dalam angkot. Untungnya ga banyak penumpang dalam angkot selain mereka, cuma aku doang sama pak supir haha.. nasib.. nasib.. sepintas aku melihat mereka diam-diam, karena ga mau dikira aku naksir mereka lagi nanti yang ada bisa ditendang aku dari angkot haha imajinasiku terlalu tinggi nampaknya.


Dari salah satu mereka, ada seseorang yang wajahnya terasa familiar menurutku. Aku mencoba melihatnya sampai seorang cewek mulai merasa aku sedang memperhatikannya, disaat kedua mata kami bertemu barulah aku ingat dengannya. Ternyata cewek itu anak sekolahan yang kemarin nitipin tas di depan pintu masuk Istana Plaza gara-gara mau beli payung dengan alasan klise.

“Oh.. kamu yang petugas penitipan barang kemarin itu yah ? kita ketemu lagi hehe..”. cewek itu langsung menunjukkan arah telunjuk tangannya kearahku sambil tertawa kecil di depan teman-temannya.
Seketika itu juga pandangan teman-temannya melihatku sambil berbisik-bisik diantara mereka membuatku menjadi salah tingkah, rasanya aku ingin menjitak kepala itu cewek sekarang ini juga.

“Petugas penitipan barang ? waaaah.. cari perkara beneran ini anak, enak banget bilang aku petugas penitipan barang segala..”. aku menggerutu dalam hati sambil berusaha menahan kesal dan menghela nafas sambil melihat ke arahnya.
Aku berusaha menenangkan diri dan melihat ke arah depan, sebentar lagi sampai kampus. Rasanya aku ingin segera keluar dari angkot ini dan bersumpah dalam hati agar jangan sampai aku bertemu dengannya lagi. Tiba-tiba cewek itu minta untuk berhenti di depan kantor imigrasi, aku hanya melirik mereka satu-persatu turun dari angkot.

“Bang.. ongkosnya dibayarin sama kakak petugas penitipan barang itu yah! Kakak petugas penitipan barang, makasih ya udah mau bayarin ongkosnya hehe.. daaah!”. Cewek itu langsung nunjuk kearahku dan melambaikan tangannya sambil tersenyum menyebalkan.
Pak supir ga berbicara banyak dan langsung menjalankan kembali angkotnya, giliran aku yang masih melongo antara percaya dan ga percaya sambil melihat ke arah itu cewek dan teman-temannya dari kejauhan yang asik tertawa.

“haha.. “. Aku tertawa speechless, masih antara percaya atau ga kejadian kemarin terulang lagi hari pagi ini.
Lampu merah berganti hijau, aku meminta untuk berhenti depan kampus. Saat aku membayar, pak supir bilang total ongkos yang harus aku bayarkan adalah 26ribu. Mau ga mau aku harus bayar setotal itu, sambil setengah mengumpat aku berjalan masuk ke kampus.

“Masih pagi udah kena apes motor mogok, mesti naik angkot, telat masuk kelas, ketemu anak sekolahan yang kemarin, ditambah bayarin ongkos angkot 26ribu lagi.. merana banget hidupku 2 hari ini, Tuhan..”. aku ngomong sendiri sambil duduk lemas di depan kelas menunggu dosen keluar.

To be continue




Comments

Popular posts from this blog

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 5 Final)

Part 5 -payung- Setelah insiden ketiduran di angkot, aku mesti muter arah lagi untuk sampai kos-kosan. Selama di angkot, aku memutuskan untuk ga tergoda dengan lambaian angin dari kaca jendela walaupun akhirnya aku terlena kembali selama beberapa detik sampai nyaris terlewat dikit dari tempat yang seharusnya aku turun. “ Mantep amat pulang dari kampus ke kos-kosan sampai 3 jam yang biasanya cuma 1 jam-an sama macet, gara-gara rumus epek nih..”. aku berjalan ke arah kos-kosan sambil ngeliatin jam di tangan. Tiba di depan kos-kosan, Ibu kos udah nangkring jah depan kamarku. Sambil mikir-mikir ada apa gerangan, padahal uang bulanan kosan udah dibayar tepat waktu, ga pernah ngutang juga, apalagi bawa cewek ke kamar juga ga pernah. “Apa gara-gara aku suka ngabisin air lebih banyak ya kalau mandi, atau ketauan aku pernah ambil jatah makanan anak kosan sebelah gitu ? lagian ga pernah diambil juga, sayang kalau ga dimakan kan buang rejeki..”. aku masih menerka-ner...

Understand - Matahari yang tak pernah kembali bersinar

19 Juli 2017, 11.20 am Taman Kota Tua samping Spiegel Bar & Resto, Semarang “Kenapa sih diantara tahun-tahun yang sudah terlewat, kamu mesti memilih tahun ini untuk kesini lagi ? 8 tahun bukan waktu yang singkat, Ga..”.  Aku memulai percakapan setelah hampir kurang lebih 20 menit kita berdiam diri di taman kota tua. “Entahlah.. Aku hanya rindu tempat ini, Van..”.  Pandangannya tetap lurus ke sepanjang jalan kota tua tanpa melihatku. “Rindu Lea juga ?”.  Aku berkata pelan sambil melihat ekspresinya. Ekspresinya ga berubah, terlihat datar dan dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengambil IPodnya lalu memasang Playlistnya, karena hari ini termasuk hari sekolah jadi hanya ada beberapa yang duduk di taman ini termasuk kita.  Send your dreams were nobody hides Give your tears to the tides No time No time “Apa kabarnya ya dia sekarang, Ga ? Terakhir kudengar dari Seila, dia masih kuliah semester akhir”.  Aku kembali membuk...