Skip to main content

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 2)

Part 2

-Private Number-


“Kriiiiiiiing.. Kriiiiiiing.. Kriiiiiiing..”.
Suara deringan telepon membuatku harus terbangun, dengan enggan aku mengambilnya di meja yang bersebelahan dengan tempat tidur. Aku melihat di layar hp siapa yang menghubungiku, namun hanya terlihat sebagai private number. Begitu aku ingin menjawabnya, telepon langsung terputus. Aku menaruh kembali ke meja dan melanjutkan tidur, tapi sepertinya akan menjadi malam yang sangat panjang karena aku ga tau kalau deringan telepon yang pertama berakhir adalah awal dimana deringan kedua dan seterusnya akan kembali menggangguku. Dan deringan teleponku kembali berbunyi.

“Kriiiiiing.. Kriiiiiiing.. Kriiiiiing..”.
Aku kembali terbangun karena kaget akan suara deringan telepon, aku langsung menjawab tanpa melihat siapa yang menelpon. Telepon pun terputus kembali, aku mencoba untuk bangun sejenak untuk melihat siapa pemilik yang berusaha menelponku.

“Private number lagi ? aish.. siapa sih ini, ga ada kerjaan ganggu orang lagi tidur..”. aku menggerutu sambil merebahkan lagi ke kasur dan kembali tertidur.
“Kriiiiiiing.. Kriiiiiiiiing.. Kriiiiiiiiing..”.
Deringan telepon berbunyi kembali, hp masih berada di tanganku dan langsung aku jawab. Aku mendengar pemilik private number itu langsung buru-buru mematikan beberapa detik kemudian, dari cara tangannya memegang hpnya yang agak kaget karena aku langsung menjawab di deringan kedua.

“hahaha.. pulsanya kena juga, makan tuh.. makanya jadi orang jangan suka iseng, kualat kan jadinya..”. sambil tertawa penuh bahagia.
“Kriiiing..”.
Ditengah asiknya aku menertawakan pemilik private number, deringan telepon kembali berbunyi namun hanya sebentar lalu deringan itu berhenti kembali.

Kriing..”.
Belum juga beberapa detik yang lalu deringan teleponku berbunyi, kini berbunyi lagi dan terus berbunyi hingga berpuluh-puluh panggilan tak terjawab muncul di hp aku. Aku sengaja mendiamkan ga mengangkat, pemilik private number itu terus saja melakukan panggilan tak terjawab sampai 30 menit berlalu.

“Waaah.. speechless banget hari ini, tadi siang dikerjain anak sekolahan sekarang dikerjain si private number..”. aku menghela nafas sambil melihat layar di hp penuh dengan panggilan tak terjawab dari private number.
Beberapa menit kemudian, deringan telepon berbunyi. Aku sengaja ga berusaha menjawabnya, kali ini deringan telepon ga mau berhenti seakan-akan menungguku untuk mengangkatnya. Dengan ragu-ragu aku menjawabnya, namun ga ada suara dari pemilik private number.

Aku      : “hallo..”.
PN        : ”............”.
Aku      : ”hallo..”.
PN        : “...........”.
Aku      : “kalau kamu ga mau jawab juga, aku tutup teleponnya..”.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pemilik private number menjawab juga.

PN        : “hallo..”.
Ternyata pemilik private number itu seorang cewek, rasa penasaranku semakin menjadi-jadi.

Aku      : “heh.. aku ga tau kamu itu siapa yah, kamu tau ga sih miscall kamu yang ratusan ini ganggu....”.
Belum selesai aku bicara, telepon terputus begitu saja.

“Dasar orang aneh, bukannya minta maaf malah main dimatiin jah.. belum juga beres ngomong, sialan banget hari ini!”. Dengan rasa kesal, aku melempar hp ke arah kursi.

To be continue




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kamu dan Hujan (Cerita Bersambung Part 5 Final)

Part 5 -payung- Setelah insiden ketiduran di angkot, aku mesti muter arah lagi untuk sampai kos-kosan. Selama di angkot, aku memutuskan untuk ga tergoda dengan lambaian angin dari kaca jendela walaupun akhirnya aku terlena kembali selama beberapa detik sampai nyaris terlewat dikit dari tempat yang seharusnya aku turun. “ Mantep amat pulang dari kampus ke kos-kosan sampai 3 jam yang biasanya cuma 1 jam-an sama macet, gara-gara rumus epek nih..”. aku berjalan ke arah kos-kosan sambil ngeliatin jam di tangan. Tiba di depan kos-kosan, Ibu kos udah nangkring jah depan kamarku. Sambil mikir-mikir ada apa gerangan, padahal uang bulanan kosan udah dibayar tepat waktu, ga pernah ngutang juga, apalagi bawa cewek ke kamar juga ga pernah. “Apa gara-gara aku suka ngabisin air lebih banyak ya kalau mandi, atau ketauan aku pernah ambil jatah makanan anak kosan sebelah gitu ? lagian ga pernah diambil juga, sayang kalau ga dimakan kan buang rejeki..”. aku masih menerka-ner...

Understand - Matahari yang tak pernah kembali bersinar

19 Juli 2017, 11.20 am Taman Kota Tua samping Spiegel Bar & Resto, Semarang “Kenapa sih diantara tahun-tahun yang sudah terlewat, kamu mesti memilih tahun ini untuk kesini lagi ? 8 tahun bukan waktu yang singkat, Ga..”.  Aku memulai percakapan setelah hampir kurang lebih 20 menit kita berdiam diri di taman kota tua. “Entahlah.. Aku hanya rindu tempat ini, Van..”.  Pandangannya tetap lurus ke sepanjang jalan kota tua tanpa melihatku. “Rindu Lea juga ?”.  Aku berkata pelan sambil melihat ekspresinya. Ekspresinya ga berubah, terlihat datar dan dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengambil IPodnya lalu memasang Playlistnya, karena hari ini termasuk hari sekolah jadi hanya ada beberapa yang duduk di taman ini termasuk kita.  Send your dreams were nobody hides Give your tears to the tides No time No time “Apa kabarnya ya dia sekarang, Ga ? Terakhir kudengar dari Seila, dia masih kuliah semester akhir”.  Aku kembali membuk...